Di Jawa Tengah, khususnya kawasan Banyumas (Purwokerto,Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara) acara hajatan di kampung biasanya menyajikan sambal goreng kreni (bola-bola daging atau ada yang menyebut printil ). " Lauk andalan," begitu jawaban ibu ketika saya mengomentari popularitas sambal goreng kreni ini.
Saya ingat ketika pernikahan kakak, pada malah hari -pernikahan di kampung memakan waktu hingga 3-4 hari- para rewang (tetangga yang membantu masak saat hajatan) begadang membuat bola-bola daging untuk sambal goreng ini. Beberapa lagi mengupas ratusan (atau ribuan?) telur puyuh rebus, pelengkap sambal goreng kreni.
Selain telur puyuh rebus, sambal goreng kreni juga ditambah kapri atau pete. Tiga bahan ini, meskipun ada di London -termasuk pete, yang dijual sudah dikupas- namun cukup mahal harganya. Sepuluh telur puyuh dijual dengan harga 1,5 poundsterling, setara dengan satu lusin telur ayam free range. Dengan harga yang sama, ibu di Purbalingga bisa mendapatkan beberapa ratus telur puyuh.
Karena itu, kecuali untuk pesanan, saya tidak menambahkan telur
puyuh dan pete pada sambal goreng kreni di rumah. Untungnya, beberapa waktu
belakangan ini, supermarket di London mulai menjual kapri (mangetout),
meskipun tidak murah, tapi cukup rasional.
SAMBAL GORENG KRENI
500 gr daging sapi cincang (beef mince) atau bisa juga daging kambing (lamb mince)
1 putih telur
20 butir telur puyuh rebus (quail egg)
100 gr kapri (mangetout), potong jadi dua
1 papan pete, kupas dan potong jadi dua
1 kaleng santan 400 ml(coconut milk) tambahkan air satu kaleng yang sama (400 ml) sambil untuk membersihkan sisa-sisa santan di kaleng, atau 1 liter santan dari 1 butir kelapa
2 iris tipis lengkuas (galangal, bisa juga dengan dried galangal)
1 batang serai, memarkan (lemongrass)
3 lembar daun salam
1 sdm asam Jawa, buang bijinya, tambahkan 5 sdm air, remas-remas hingga larut.
1 sdm irisan gula merah (bisa diganti dengan 1 sdm dark brown sugar atau gula pasir biasa)
garam secukupnya
15 biji cabai merah besar, buang bijinya jika tidak suka pedas (atau 5 sdm chilli powder)
10 butir bawang merah (shallot) bisa diganti dengan 2 bawang bombay merah (2 medium red onion)
4 siung bawang putih
5 butir kemiri
Cara Membuat:
Bola-bola daging: campur daging cincang, 1 siung bawang putih yang sudah dihaluskan,1 sdt lada, 1 putih telur dan garam secukupnya. Remas-remas dengan tangan (bungkus tangan dengan plastik jika tidak comfortable) sampai tercampur rata dan lengket.
Bulatkan sebesar kelereng, sisihkan. Bola-bola daging ini bisa disiapkan hingga 24 jam sebelumnya, simpan di lemari es.
Tumis bumbu halus sampai wangi, tuang santan.
Saat santan mendidih, masukkan bola-bola daging, aduk agar tidak lengket satu sama lain. Masak dengan api sedang sampai santan berkurang setengahnya dan mulai keluar minyak. Aduk sesekali, tambahkan air asam Jawa.
Terakhir, masukkan pete/telur puyuh/kapri. Aduk rata dan terus masak sampai kapri/pete layu (jangan terlalu matang agar warna tetap hijau cantik) kira-kira 5 menit. Angkat dan sajikan dengan nasi hangat dan kerupuk. Yummy!
*Klik foto untuk memperbesar gambar



Sekali lagi Glek-glek-glek, salut deh..aku pikir seleranya mbak rani sekeluarga ud inggris banget..saking kelamaan disana. Lagi kangen ama masakan ibunda purbalingga ya....Hmmm wanginya sampai sini lho .. Kaka Kirana suka cobain masakan mommy yang ini gak???
Posted by: Luky | March 12, 2007 at 10:11 AM
Hi Dik Genung,
(pake nama lama aja ya...he2)...Upst, kebetulan lewat jalan2 cari resep malah nemu sambel goreng kreni ala Mbak genung..,upst Mbak Rani.
Gimana kabarnya..., Mbak Ira gimana juga kabarnya? Kapan terkhir ke Purbalingga...?
Salam buat keluarga ya..., cheers BS
Posted by: Bronto | March 18, 2007 at 05:12 AM