Ada
beberapa hal yang patut diingat setiap kali perdebatan tentang 'loyalitas'
terhadap sebuah klub sepakbola muncul.
Pertama,
and the most important adalah, fans MEMBAYAR untuk memakai club's t shirt
(£39.99, in case you haven’t known already) sementara pemain DIBAYAR untuk
memakai t'shirt yang sama.
Kedua,
adalah kata PROFESIONAL dalam status pemain sepakbola di any club in the world; profesional footballer.
Ketiga,
klub sepakbola adalah bisnis yang dikelola sebagaimana perusahaan dijalankan.
Manchester United misalnya, dikenal di luar lapangan sebagai Manchester United
plc.
Ketika
saya menulis tentang David Beckham akan dijual dari United --di UK saat itu sudah
disebut 'done deal' antara Sir Alex Ferguson dan United Board, question
yang tersisa hanyalah where? Barcelona or Real madrid--saya 'digebukin' disebuah milis olahraga milik
salah satu tabloid olahraga Indonesia yang mayoritas adalah pendukung United.
Ketika
saya kemudian menuliskan 'fakta pendukung' mengapa David Beckham memungkinkan
(dan karena itu akan) di jual, mereka yang tadinya menganggap bahwa 'Beckham
adalah United', 'tidak ada Beckham, United mati' dsb terbuka
pemikirannya--meskipun masih belum bisa menerima/percaya bahkan ketika benar Beckham ke Real Madrid-- bahwa Beckham bisa
dan akan dijual .
Since
then saya menjadi dekat –-meskipun lewat email, karena itu awalnya ia mengira
saya laki-laki-- dengan Presiden Manchester United fans club di Indonesia. Yang
katanya tidak bisa tidur ketika saya menuliskan berseri biografi Beckham, My
Side.
Karena membuka pengetahuannya adanya 'sisi lain' yang not- so- beautiful
dari his beloved club, manager and players.
Pak
Sam, adalah salah satu contoh bagaimana loyalitas seorang fans terhadap sebuah
klub sepakbola dan it's players.
Player
dilain pihak adalah dibayar untuk bermain membela sebuah klub, bagaimanapun
cintanya pemain dengan klub --seperti Beckham yang dari kecil bermimpi bermain
untuk United-- ia harus siap dijual, atau minta untuk dijual ketika ada klub
lain yang lebih chalenging atau sanggup untuk membayar lebih tinggi.
Dan
ketika di depan kata player ditambah profesional, itu artinya ikatan David Beckham
dengan United atau Real Madrid tidak lah beda dengan seorang employee terhadap
his/her employer in any other companies.
Namun, karena
ada dua perbedaan antara fans dan player itu, maka setiap ada high profile player pindah
klub pasti muncul kontroversi. Apalagi di UK dimana klub sepakbola adalah agama
bagi sebagian besar penduduknya.
Ketika
seorang employee bertemu di sebuah tempat dengan calon employer yang berminat
untuk hire him dan saling mengajukan presentasi dan tawaran, dalam kondisi lain disebut job
intreview.
Ketika
this employee happens to be Ashley Cole from Arsenal FC dan calon employer adalah Chelsea FC yang diwakili Peter Kenyon dan Jose Mourinho, maka job
interview itu menjadi skandal.
Mungkin
saya dan Arsenal tidak sekelas Pak Sam dan United, karena bagi saya jika Ashley
Cole tidak ingin lagi menjadi pemain Arsenal toh ada Gael Clincy.
Hanya saja, I
can help to think 'money grabbing' eveytime saya nanti melihat Ashley Cole in
the blue t shirt.
Cole Tapping Up Saga
Ditulis berseri untuk Jawa Pos edisi Minggu 27 dan Senin 28 Maret 2005.
Pemikiran
bahwa klub lebih penting dari tim nasional sudah lama diperdebatkan di Inggris.
Apa yang terjadi beberapa hari terakhir adalah bukti yang menguatkan pendapat
itu.
Media
dan publik seakan tidak peduli dengan persiapan David Beckham dkk menghadapi
Irlandia Utara Sabtu malam, tetapi justru berkonsentrasi pada kontroversi yang
melibatkan satu pemain dan dua klub yang bertetangga; Ashley Cole, Arsenal dan
Chelsea.
Kontroversi
yang disebut di Inggris sebagai 'Cole tapping up saga' (skandal pembajakan Cole) itu bermula pada sebuah pertemuan di Royal Park Hotel, London pada
27 Januari lalu.
Pertemuan
di Green Room itu dihadiri oleh Ashley Cole dan agennya Jonathan Barnett, Peter
Kenyon (Dir Eksekutif Chelsea), Jose Mourinho (Manajer Chelsea) dan agen yang
menangani pembelian pemain Chelsea, Pini Zahavi.
Masalahnya,
pertemuan yang semula disanggah oleh semua pihak yang terlibat itu jelas-jelas
melanggar peraturan Premier League K3. Yang berbunyi: "Any club which by itself, by any of its officials, by
any of its players, by its agent, by any other person on its behalf or by any other
means whatsoever makes an approach either directly or indirectly to a contract
player shall be in breach of these rules ".
Chelsea,
yang diwakili Kenyon, Mourinho, Zahavi bertemu dengan Cole dan agennya
untuk membeli pemain yang disebut Mourinho sebagai 'pemain belakang terbaik di
Inggris' yang masih terikat kontrak dengan Arsenal.
Selain
pelanggaran terhadap K3 itu, kontroversi ini semakin besar karena pertemuan itu
dilakukan menjelang pertandingan penting Arsenal melawan Manchester United. "Apakah mereka mencoba untuk mengguncang stabilitas Arsenal atau Ashley Cole,
saya tidak tahu,"begitu yang dikatakan Arsene Wenger .
Situasi semakin panas karena melibatkan dua klub besar yang
tengah berebut posisi teratas dan juga bertetangga. Dan yang ingin membajak
adalah klub yang kini punya uang yang tidak terbatas.
Sebaliknya, klub yang akan diambil salah satu nyawanya adalah klub
yang dengan kondisi keuangan yang mepet--karena tengah membangunan stadion baru
dan tidak punya backing keuangan yang kuat--dan hanya mengandalkan kejeniusan
sang manajer dalam mengoptimalkan pemain yang ia miliki.
'Cole tapping up saga' ini menjadi bercampur antara masalah
salah-benar, taktik kotor, hingga uang mencoba mengalahkan/membeli segalanya.
Dalam pertemuan itu, Cole dipercaya di Inggris ditawari
Chelsea 3 kali lipat dari gajinya di Arsenal sebesar 27 ribu poundsterling (sekitar Rp 346,5 juta)
per minggu menjadi 80 ribu pounds (sekitar Rp 1,08 milyar) per minggu.
Chelsea yang ingin sekali mendapatkan Cole bahkan menekankan
bahwa kenaikan gaji itu akan berlaku segera dan terhitung mundur (backdated).
Artinya, Cole akan mendapatkan tambahan gaji 53 ribu pounds (Rp Rp 715,5 juta) per
minggu dari Roman Abramovich dari mulai ia menyatakan 'yes' hingga ia
menandatangani kontrak pindah ke Stamford Bridge.
Pembayaran insentif itu, yang jumlahnya akan mencapai 1 juta
pounds (Rp 13,5 miliar), segera dibayarkan dalam bentuk
signing-on fee (biaya penandatanganan) pada saat Cole pindah ke Chelsea.
Seakan tawaran uang itu kurang menggiurkan, dikabarkan juga
bahwa Mourinho menjanjikan kepada Cole bahwa Steven Gerrard, yang kini disebut
sebagai pemain tengah terbaik di Inggris, akan juga dibeli dari Liverpool.
Ketika pihak-pihak yang mengadakah pertemuan itu tidak lagi
bisa menyangkal bahwa pertemua itu memang benar terjadi, maka pihak Chelsea dan
Cole saling menuding tentang siapa yang menginginkan pertemuan itu.
Meskipun kini FA Premiere League akan memanggil semua pihak
yang terlibat dalam pertemuan di Royal Park hotel yang menghasilkan 'Cole
tapping up saga', tetapi yang ditunggu di Inggris bukan lah keputusan siapa
(lebih) bersalah apakah Chelsea atau Cole.
Yang lebih menarik untuk dinantikan adalah akan berada di klub
mana Cole musim depan, tetap di London Utara atau pindah ke London
Barat.
Dari surat panggilan tim pemeriksa bahwa Cole harus
menjelaskan posisinya berdasarkan rule K5 (mengatur tindakan pendekatan pemain
kepada klub lain) akan membuat hubungan bek kiri Timnas Inggris ini menjadi
tegang baik dengan Arsenal maupun dengan pendukung klub tersebut.
Jika menilik pada surat panggilan tersebut, Cole tidak hanya
mendengarkan tawaran dari calon klub baru, tetapi ia juga berinisiatif aktif
untuk mendekati klub lawan.
Versi awal yang dikemukakan kubu Cole tentang pertemuan
di hotel di jantung kota London itu sebenarnya adalah pertemuannya dengan agennya,
Jonathan Barnett.
Pertemuan itu kemudian dimanfaatkan oleh Jose Mourinho
(manajer Chelsea) dan Peter Kenyon (Direktur Ekesekutif Chelsea) yang datang
bersama Pini Zahavi (agen yang sering mewakili Chelsea dalam pembelian pemain).
Namun tim pemeriksa dari FA Premiere League tampaknya tidak
percaya dengan alasan yang dikemukakan Cole. Dan kenyataan ini sangat
menyakitkan para pendukung Arsenal.
Ketika alasan 'mendengarkan tawaran dari klub lain' masih bisa
diterima, tetapi ketika seorang pemain kunci, yang dibesarkan di klub itu,
menawarkan dirinya pada klub lawan yang memang diketahui siap menawarnya dengan
harga yang paling tinggi, akan sulit dimaafkan.
Jika tuduhan itu benar, maka Arsene Wenger yang dari awal
membela Cole juga akan terpukul. "Saya tahu itu terjadi. Bagaimanapun seorang
pemain ingin untuk tetap diklubnya, bukan berarti ia tidak mendengarkan tawaran
dari klub lain,"adalah pembelaan manajer Arsenal terhadap pemainnya ketika
kasus itu terkuak.
Kini, ketika kebenaran mulai terkuak, satu-satunya yang bisa
mencegah Cole meninggalkan Highbury hanyalah faktor Arsene Wenger. Faktor
Wenger juga yang membuat Tierry Henry,Patrick Vieira dan Robert Pires sulit
untuk dibeli.
Karena siapapun tahu bahwa kondisi keungan Arsenal tidak
mungkin bisa menyamai tawaran 80 ribu poundsterling per minggu yang ditawarkan
Chelsea kepada Cole.
Kondisi yang juga sama dihadapi oleh Liverpool, bahwa tidak
mungkin mereka akan menyamai tawaran Chelsea kepada Steven Gerrard yang
kabarnya siap membayar 30 juta pounds.
Namun apakah Wenger masih akan mempertahankan Cole,
sebagaimana ia menerima kembali Patrick Vieira ketika berbalik badan diujung
kontrak dengan Real Madrid musim lalu?
Wenger tidak punya pilihan lain kecuali menerima Vieira, yang
posisinya sama pentingnya dengan Roy Keane di Manchester United atau Steven
Gerrard bagi Liverpool, tidak tergantikan.
Tetapi untuk posisi Cole, bek kiri, adalah satu-satunya posisi
yang Arsenal tidak punya masalah--ada Gael Clinchy yang siap menggantikan. Bahkan
dalam dua bulan terakhir Clincy lah yang lebih sering diturunkan dibanding
Cole. Dan penilainnya adalah Clincy bermain lebih baik dari pemain berusia 24 tahun itu ketika ia
seusianya.
Satu-satunya alasan untuk membuat Chelsea terkena sanksi lebih
dari sekdera membayar denda adalah komplain resmi dari Arsenal. Dan pihak
Higbury, baik Wenger maupun David Dein (wakil direkur Arsenal) menolak untuk
mengajukan protes resmi atas upaya Chelsea membajak pemainnya.
Sebagian menyatakan bahwa keengganan Arsenal untuk melakukan
tindakan yang bisa berakibat pemotongan nilai 10 bagi Chelsea adalah karena
mereka takut kehilangan Cole.
Frankly I am amazed this could happen in a hotel in the
centre of London. Why not do it in the middle of the M25 and then at
least everybody knows!(Arsene Wenger)
Tetapi dengan kapasitas Wenger dan adanya Clincy yang siap
mengisi posisi Cole, sepertinya pendapat lain yang lebih masuk akal, yaitu
bahwa Arsenal tidak berminat untuk memperkarakan hal-hal di luar lapangan. Ini
bisa dilihat dari kasus Nicolas Anelka yang dibajak Real Madrid.
Bagi Cole sendiri, kalau ia terbukti berinisiatif untuk
menawarkan dirinya ke Chelsea, maka akan sulit untuk tetap berada di klub yang
didukungnya sejak kecil.
Selain faktor ego, bahwa rekannya di timnas Inggris, Frank Lampard
yang kemampuanya dinilai tidak lebih baik darinya dibayar 3 kali lipat dari gajinya,
maka reaksi pendukung Arsenal yang akan sulit memaafkan Cole tidak akan lepas
dari perhitungannya.
Mendengarkan tawaran dari Real Madrid –-kasus Patrick Vieira
dan Jose Antonia Reyes--masih bisa dimaafkan. Tetapi menawarakan diri kepada
klub lawan tidak begitu saja bisa dilupakan pendukung the Gunner.
Sebaliknya hijrah ke Stramford Bridge tidak juga akan
menjadikannya pemain populer di kota tempat ia dilahirkan juga kota tempat ia
tinggal. Belum lagi cap 'menjual diri' yang akan terus melekat dalam dirinya.
Dan bagi Wenger yang keputusannya untuk menerima kembali Vieria
(musim ini tidak lagi seefektif musim lalu) kini banyak disesalkan pendukung Arsenal, karena setidaknya kalau
tawaran Real Madrid itu dulu diterima, Arsenal punya uang untuk ikut berebut
Steven Gerrard.
Maka kalau ia punya Clincy, buat apa mempertahanan pemain yang
tidak ingin lagi bermain untuk klubnya. Namun putusan akhir antara Highbury
atau Stamford Bridge, tetap ada pada Ashley Cole.
(foto dari bbc.co.uk dan timesonline.co.uk)
aku sempet ngikuti cole tapping up saga itu, seru! tulisanmu juga seru, bagus...aku suka baca tulisanmu, style-nya asiiik :)
Posted by: hani | March 30, 2005 at 02:08 AM
iya eui di sini dingin lagi ran..brrrr...btw. dikau seneng banget ama dunia or , khususnya bola ya buw...kagum eui bisa tau pernik perniknya..hihihihihi...hmmm ini artikel sepanjang ini nulisnya pasti pas nunggu pak ilo pulang yahhh ;)
Posted by: *)Iin | March 29, 2005 at 10:14 AM
mantapp...nulis tentang bolanya oke juga....ternyata pemerhati bola sejati toh?...
Posted by: fisto | March 29, 2005 at 09:01 AM
Di eropa sepakbola adalah sebuah bisnis yang sangat besar (dlm jumlah uangnya) makanya dituntut profesionalitas dari pemainnya.
btw tulisannya sangat informatif banget, benar kata yanti, mungkin gak nyangka kalo yang nulis perempan
btw lg saya link ke blog saya yah.
Posted by: andri | March 29, 2005 at 07:16 AM
Hehee.. kalo ngeliat gimana fasihnya Rani nulis soal sepakbola, nggak terlalu salah kalo ada yg ngira penulis artikel2 tsb laki2. Selama ini kan sepakbola dianggap dunia laki2. Perempuan yg suka sepakbola katanya cuma suka tampang pemainnya aja. HUH. Padahal kan, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.. hihihi..
Posted by: yanti | March 29, 2005 at 07:03 AM