« The boat race | Main | Princes hit the town »

March 27, 2005

Green Room Royal Park Hotel, 27 Januari

Ashleycole_1Ada beberapa hal yang patut diingat setiap kali perdebatan tentang 'loyalitas' terhadap sebuah klub sepakbola muncul.

Pertama, and the most important adalah, fans MEMBAYAR untuk memakai club's t shirt (£39.99, in case you haven’t known already) sementara pemain DIBAYAR untuk memakai t'shirt yang sama.

Kedua, adalah kata PROFESIONAL dalam status pemain sepakbola di any club in the world; profesional footballer.

Ketiga, klub sepakbola adalah bisnis yang dikelola sebagaimana perusahaan dijalankan. Manchester United misalnya, dikenal di luar lapangan sebagai Manchester United plc.

Ketika saya menulis tentang David Beckham akan dijual dari United --di UK saat itu sudah disebut 'done deal' antara Sir Alex Ferguson dan United Board, question yang tersisa hanyalah where? Barcelona or Real madrid--saya 'digebukin' disebuah milis olahraga milik salah satu tabloid olahraga Indonesia yang mayoritas adalah pendukung United.

Ketika saya kemudian menuliskan 'fakta pendukung' mengapa David Beckham memungkinkan (dan karena itu akan) di jual, mereka yang tadinya menganggap bahwa 'Beckham adalah United', 'tidak ada Beckham, United mati' dsb terbuka pemikirannya--meskipun masih belum bisa menerima/percaya bahkan ketika benar  Beckham ke Real Madrid-- bahwa Beckham bisa dan akan dijual .

Since then saya menjadi dekat –-meskipun lewat email, karena itu awalnya ia mengira saya laki-laki-- dengan Presiden Manchester United fans club di Indonesia. Yang katanya tidak bisa tidur ketika saya menuliskan berseri biografi Beckham, My Side.

Karena membuka pengetahuannya adanya 'sisi lain' yang not- so- beautiful dari his beloved club, manager and players.

Pak Sam, adalah salah satu contoh bagaimana loyalitas seorang fans terhadap sebuah klub sepakbola dan it's players.

Player dilain pihak adalah dibayar untuk bermain membela sebuah klub, bagaimanapun cintanya pemain dengan klub --seperti Beckham yang dari kecil bermimpi bermain untuk United-- ia harus siap dijual, atau minta untuk dijual ketika ada klub lain yang lebih chalenging atau sanggup untuk membayar lebih tinggi.

Dan ketika di depan kata player ditambah profesional, itu artinya ikatan David Beckham dengan United atau Real Madrid tidak lah beda dengan seorang employee terhadap his/her employer in any other companies.

Namun, karena ada dua perbedaan antara fans dan player itu, maka setiap ada high profile player pindah klub pasti muncul kontroversi. Apalagi di UK dimana klub sepakbola adalah agama bagi sebagian besar penduduknya.

Ketika seorang employee bertemu di sebuah tempat dengan calon employer yang berminat untuk hire him dan saling mengajukan presentasi dan tawaran, dalam kondisi lain disebut job intreview.

Ketika this employee happens to be Ashley Cole from Arsenal FC dan calon employer adalah Chelsea FC yang diwakili Peter Kenyon dan Jose Mourinho, maka job interview itu menjadi skandal.

Mungkin saya dan Arsenal tidak sekelas Pak Sam dan United, karena bagi saya jika Ashley Cole tidak ingin lagi menjadi pemain Arsenal toh ada Gael Clincy.

Hanya saja, I can help to think 'money grabbing' eveytime saya nanti melihat Ashley Cole in the blue t shirt.

Cole Tapping Up Saga

Ditulis berseri untuk Jawa Pos edisi Minggu 27 dan Senin 28 Maret 2005.

Ashleycole1Pemikiran bahwa klub lebih penting dari tim nasional sudah lama diperdebatkan di Inggris. Apa yang terjadi beberapa hari terakhir adalah bukti yang menguatkan pendapat itu.

Media dan publik seakan tidak peduli dengan persiapan David Beckham dkk menghadapi Irlandia Utara Sabtu malam, tetapi justru berkonsentrasi pada kontroversi yang melibatkan satu pemain dan dua klub yang bertetangga; Ashley Cole, Arsenal dan Chelsea.

Kontroversi yang disebut di Inggris sebagai 'Cole tapping up saga' (skandal pembajakan Cole) itu bermula pada sebuah pertemuan di Royal Park Hotel, London pada 27 Januari lalu.

Pertemuan di Green Room itu dihadiri oleh Ashley Cole dan agennya Jonathan Barnett, Peter Kenyon (Dir Eksekutif Chelsea), Jose Mourinho (Manajer Chelsea) dan agen yang menangani pembelian pemain Chelsea, Pini Zahavi.

Masalahnya, pertemuan yang semula disanggah oleh semua pihak yang terlibat itu jelas-jelas melanggar peraturan Premier League K3. Yang berbunyi: "Any club which by itself, by any of its officials, by any of its players, by its agent, by any other person on its behalf or by any other means whatsoever makes an approach either directly or indirectly to a contract player shall be in breach of these rules ".

Chelsea, yang diwakili Kenyon, Mourinho, Zahavi bertemu dengan Cole dan agennya untuk membeli pemain yang disebut Mourinho sebagai 'pemain belakang terbaik di Inggris' yang masih terikat kontrak dengan Arsenal.

Selain pelanggaran terhadap K3 itu, kontroversi ini semakin besar karena pertemuan itu dilakukan menjelang pertandingan penting Arsenal melawan Manchester United. "Apakah mereka mencoba untuk mengguncang stabilitas Arsenal atau Ashley Cole, saya tidak tahu,"begitu yang dikatakan Arsene Wenger .

Situasi semakin panas karena melibatkan dua klub besar yang tengah berebut posisi teratas dan juga bertetangga. Dan yang ingin membajak adalah klub yang kini punya uang yang tidak terbatas.

Sebaliknya, klub yang akan diambil salah satu nyawanya adalah klub yang dengan kondisi keuangan yang mepet--karena tengah membangunan stadion baru dan tidak punya backing keuangan yang kuat--dan hanya mengandalkan kejeniusan sang manajer dalam mengoptimalkan pemain yang ia miliki.

'Cole tapping up saga' ini menjadi bercampur antara masalah salah-benar, taktik kotor, hingga uang mencoba mengalahkan/membeli segalanya.

Josemourinhosilenceliverpool_1Dalam pertemuan itu, Cole dipercaya di Inggris ditawari Chelsea 3 kali lipat dari gajinya di Arsenal sebesar 27 ribu poundsterling (sekitar Rp 346,5 juta) per minggu menjadi 80 ribu pounds (sekitar Rp 1,08 milyar) per minggu.

Chelsea yang ingin sekali mendapatkan Cole bahkan menekankan bahwa kenaikan gaji itu akan berlaku segera dan terhitung mundur (backdated). Artinya, Cole akan mendapatkan tambahan gaji 53 ribu pounds (Rp Rp 715,5 juta) per minggu dari Roman Abramovich dari mulai ia menyatakan 'yes' hingga ia menandatangani kontrak pindah ke Stamford Bridge.

Pembayaran insentif itu, yang jumlahnya akan mencapai 1 juta pounds (Rp 13,5 miliar), segera dibayarkan dalam bentuk signing-on fee (biaya penandatanganan) pada saat Cole pindah ke Chelsea.

Seakan tawaran uang itu kurang menggiurkan, dikabarkan juga bahwa Mourinho menjanjikan kepada Cole bahwa Steven Gerrard, yang kini disebut sebagai pemain tengah terbaik di Inggris, akan juga dibeli dari Liverpool.

Ketika pihak-pihak yang mengadakah pertemuan itu tidak lagi bisa menyangkal bahwa pertemua itu memang benar terjadi, maka pihak Chelsea dan Cole saling menuding tentang siapa yang menginginkan pertemuan itu.

Meskipun kini FA Premiere League akan memanggil semua pihak yang terlibat dalam pertemuan di Royal Park hotel yang menghasilkan 'Cole tapping up saga', tetapi yang ditunggu di Inggris bukan lah keputusan siapa (lebih) bersalah apakah Chelsea atau Cole.

Ashleycole2Yang lebih menarik untuk dinantikan adalah akan berada di klub mana Cole musim depan, tetap di London Utara atau pindah ke London Barat.

Dari surat panggilan tim pemeriksa bahwa Cole harus menjelaskan posisinya berdasarkan rule K5 (mengatur tindakan pendekatan pemain kepada klub lain) akan membuat hubungan bek kiri Timnas Inggris ini menjadi tegang baik dengan Arsenal maupun dengan pendukung klub tersebut.

Jika menilik pada surat panggilan tersebut, Cole tidak hanya mendengarkan tawaran dari calon klub baru, tetapi ia juga berinisiatif aktif untuk mendekati klub lawan.

Versi awal yang dikemukakan kubu Cole tentang pertemuan di hotel di jantung kota London itu sebenarnya adalah pertemuannya dengan agennya, Jonathan Barnett.

Pertemuan itu kemudian dimanfaatkan oleh Jose Mourinho (manajer Chelsea) dan Peter Kenyon (Direktur Ekesekutif Chelsea) yang datang bersama Pini Zahavi (agen yang sering mewakili Chelsea dalam pembelian pemain).

Namun tim pemeriksa dari FA Premiere League tampaknya tidak percaya dengan alasan yang dikemukakan Cole. Dan kenyataan ini sangat menyakitkan para pendukung Arsenal.

Ketika alasan 'mendengarkan tawaran dari klub lain' masih bisa diterima, tetapi ketika seorang pemain kunci, yang dibesarkan di klub itu, menawarkan dirinya pada klub lawan yang memang diketahui siap menawarnya dengan harga yang paling tinggi, akan sulit dimaafkan.

Jika tuduhan itu benar, maka Arsene Wenger yang dari awal membela Cole juga akan terpukul. "Saya tahu itu terjadi. Bagaimanapun seorang pemain ingin untuk tetap diklubnya, bukan berarti ia tidak mendengarkan tawaran dari klub lain,"adalah pembelaan manajer Arsenal terhadap pemainnya ketika kasus itu terkuak.

Kini, ketika kebenaran mulai terkuak, satu-satunya yang bisa mencegah Cole meninggalkan Highbury hanyalah faktor Arsene Wenger. Faktor Wenger juga yang membuat Tierry Henry,Patrick Vieira dan Robert Pires sulit untuk dibeli.

Karena siapapun tahu bahwa kondisi keungan Arsenal tidak mungkin bisa menyamai tawaran 80 ribu poundsterling per minggu yang ditawarkan Chelsea kepada Cole.

Kondisi yang juga sama dihadapi oleh Liverpool, bahwa tidak mungkin mereka akan menyamai tawaran Chelsea kepada Steven Gerrard yang kabarnya siap membayar 30 juta pounds.

Namun apakah Wenger masih akan mempertahankan Cole, sebagaimana ia menerima kembali Patrick Vieira ketika berbalik badan diujung kontrak dengan Real Madrid musim lalu?

Wenger tidak punya pilihan lain kecuali menerima Vieira, yang posisinya sama pentingnya dengan Roy Keane di Manchester United atau Steven Gerrard bagi Liverpool, tidak tergantikan.

Tetapi untuk posisi Cole, bek kiri, adalah satu-satunya posisi yang Arsenal tidak punya masalah--ada Gael Clinchy yang siap menggantikan. Bahkan dalam dua bulan terakhir Clincy lah yang lebih sering diturunkan dibanding Cole. Dan penilainnya adalah Clincy bermain lebih baik dari pemain berusia 24 tahun itu ketika ia seusianya.

Satu-satunya alasan untuk membuat Chelsea terkena sanksi lebih dari sekdera membayar denda adalah komplain resmi dari Arsenal. Dan pihak Higbury, baik Wenger maupun David Dein (wakil direkur Arsenal) menolak untuk mengajukan protes resmi atas upaya Chelsea membajak pemainnya.

Sebagian menyatakan bahwa keengganan Arsenal untuk melakukan tindakan yang bisa berakibat pemotongan nilai 10 bagi Chelsea adalah karena mereka takut kehilangan Cole.

ArsenewengerFrankly I am amazed this could happen in a hotel in the centre of London. Why not do it in the middle of the M25 and then at least everybody knows!(Arsene Wenger)

Tetapi dengan kapasitas Wenger dan adanya Clincy yang siap mengisi posisi Cole, sepertinya pendapat lain yang lebih masuk akal, yaitu bahwa Arsenal tidak berminat untuk memperkarakan hal-hal di luar lapangan. Ini bisa dilihat dari kasus Nicolas Anelka yang dibajak Real Madrid.

Bagi Cole sendiri, kalau ia terbukti berinisiatif untuk menawarkan dirinya ke Chelsea, maka akan sulit untuk tetap berada di klub yang didukungnya sejak kecil.

Selain faktor ego, bahwa rekannya di timnas Inggris, Frank Lampard yang kemampuanya dinilai tidak lebih baik darinya dibayar 3 kali lipat dari gajinya, maka reaksi pendukung Arsenal yang akan sulit memaafkan Cole tidak akan lepas dari perhitungannya.

Mendengarkan tawaran dari Real Madrid –-kasus Patrick Vieira dan Jose Antonia Reyes--masih bisa dimaafkan. Tetapi menawarakan diri kepada klub lawan tidak begitu saja bisa dilupakan pendukung the Gunner.

Sebaliknya hijrah ke Stramford Bridge tidak juga akan menjadikannya pemain populer di kota tempat ia dilahirkan juga kota tempat ia tinggal. Belum lagi cap 'menjual diri' yang akan terus melekat dalam dirinya.

Dan bagi Wenger yang keputusannya untuk menerima kembali Vieria (musim ini tidak lagi seefektif musim lalu) kini banyak disesalkan pendukung Arsenal, karena setidaknya kalau tawaran Real Madrid itu dulu diterima, Arsenal punya uang untuk ikut berebut Steven Gerrard.

Maka kalau ia punya Clincy, buat apa mempertahanan pemain yang tidak ingin lagi bermain untuk klubnya. Namun putusan akhir antara Highbury atau Stamford Bridge, tetap ada pada Ashley Cole.

(foto dari bbc.co.uk dan timesonline.co.uk)

Comments

aku sempet ngikuti cole tapping up saga itu, seru! tulisanmu juga seru, bagus...aku suka baca tulisanmu, style-nya asiiik :)

iya eui di sini dingin lagi ran..brrrr...btw. dikau seneng banget ama dunia or , khususnya bola ya buw...kagum eui bisa tau pernik perniknya..hihihihihi...hmmm ini artikel sepanjang ini nulisnya pasti pas nunggu pak ilo pulang yahhh ;)

mantapp...nulis tentang bolanya oke juga....ternyata pemerhati bola sejati toh?...

Di eropa sepakbola adalah sebuah bisnis yang sangat besar (dlm jumlah uangnya) makanya dituntut profesionalitas dari pemainnya.

btw tulisannya sangat informatif banget, benar kata yanti, mungkin gak nyangka kalo yang nulis perempan

btw lg saya link ke blog saya yah.

Hehee.. kalo ngeliat gimana fasihnya Rani nulis soal sepakbola, nggak terlalu salah kalo ada yg ngira penulis artikel2 tsb laki2. Selama ini kan sepakbola dianggap dunia laki2. Perempuan yg suka sepakbola katanya cuma suka tampang pemainnya aja. HUH. Padahal kan, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.. hihihi..

Verify your Comment

Previewing your Comment

This is only a preview. Your comment has not yet been posted.

Working...
Your comment could not be posted. Error type:
Your comment has been posted. Post another comment

The letters and numbers you entered did not match the image. Please try again.

As a final step before posting your comment, enter the letters and numbers you see in the image below. This prevents automated programs from posting comments.

Having trouble reading this image? View an alternate.

Working...

Post a comment