" Hai Bu, udah tahu Sobron Aidit meninggal siang tadi?". Begitu seorang teman mengirim pesan pendek tadi sore. Saya pun teringat pada cerita tentangnya, tentang lelaki tua yang juga ditulis suaminya, Tomi Lebang.
Berita kematian selalu menjadi pengingat, bahwa akan tiba giliran saya. It's not if, but when.
Lelaki di Val de Fontenay
Ia telah menunggu di bangku tengah Stasiun Val de Fontenay ketika kereta kami tiba. Saya segera mengenalnya, wajah lelaki 70 tahun yang saya kenal pertama kali di Jakarta, setahun silam. "Baru 20 menit kok," katanya ramah.
Sobron Aidit, lelaki tua ini tak berubah banyak meski pada wajahnya ada gurat letih. Ia agak gemuk, tapi masih menyisakan kegagahan masa lalu. Ia masih mengingat pertemuan kami -- bersama Karin dan Jajang Pamuncak -- di Jamz Pub, Jakarta.
Dan kini, di sebuah stasiun di timur kota Paris, kami bertemu lagi. Dari London saya menyeberang ke Eropa daratan ini dengan kereta Eurostar yang melewati terowongan bawah laut yang terkenal itu: Euro Tunnel. "Sehat Om?" dia tertawa, ramah sekali. Saya memanggilnya Om, seperti panggilan Karin yang pernah mengunjunginya di Paris, beberapa tahun silam.
Kami berjalan keluar stasiun, menuju halte bis. Udara Paris musim panas sedikit menggerahkan. Sobron membuka jaket. Tak lama kemudian, bis bernomor 124 pun datang. Kami berebut dengan sejumlah orang Afrika yang berjubah warna-warni. Hanya dua kelokan, dan apartemen Sobron di kaki bukit itu telah tampak.
Ia sendirian di apartemen ini, 15 Rue Guynemer, Fontenay Sous Bois. "Ini rumah pembagian untuk pensiunan," katanya. Dua anaknya, tinggal di Amsterdam. Maka dalam sebulan, ia selalu bepergian di antara dua negara itu: Belanda dan Perancis.
Apartemen Sobron terbilang sederhana. Di ruang tamu, ada rak buku dengan novel-novel lama berderet di atasnya: Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Umar Kayyam, Seno Gumira Ajidarma, juga buku-buku berhuruf Mandarin. Sekilas saya menangkap kerinduan Sobron pada tanah airnya, Indonesia. Saya menarik sebuah novel tipis. Penulisnya Paula Gomes, warga negara Belanda beribu Jawa. Sudahlah, Biarkan Saja, begitu judul novel ini, yang bercerita tentang kerinduan Paula pada Indonesia, tempat lahirnya.
Saya mengabarkan meninggalnya sastrawan Mochtar Lubis dan bekas Perdana Menteri Soebandrio, Jumat 2 Juli lalu. Kabar yang juga saya baca di media online tanah air. "O ya?" hanya itu reaksinya. Tak kelihatan ia merenung-renung. Ia tidak terkejut. "Mereka sudah tua ya."
Tapi ia bercerita juga tentang Soebandrio. Alkisah, saat pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati atas gembong G30S/PKI, Letnan Kolonel Untung, Soebandrio sempat mengucapkan salam padanya. "Sampai ketemu di sana ya," kata Soebandrio kepada Untung. Ia juga dihukum mati. Beruntung bagi Soebandrio, Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter dan Ratu Belanda, Elizabeth berkirim surat ke Suharto, meminta tokoh ini tidak dihukum mati.
Menjelang makan siang ia juga bercerita tentang kakak kandungnya, DN Aidit. "Usia kami terpaut 11 tahun. Ahmad itu anak didik Bung Hatta yang paling disayang," kata Sobron. Ia menyebut DN Aidit sebagai Ahmad. "Itu nama aslinya, Ahmad Aidit. Nama Dipa Nusantara Aidit itu baru muncul setelah ia mengirim proposal ke ayah. Itu alasan politik saja," katanya seraya tertawa.
Menjelang sore di apartemen Val de Fontanay. Di ruang tamu, lagi-lagi saya menatap foto hitam putih berbingkai kayu di atas lemari, foto Sobron muda bersama mendiang istri dan dua anaknya. "Itu foto di Peking tahun 1964. Sudah 40 tahun," katanya.
Sobron berada di Peking (sekarang Beijing) ketika pecah peristiwa 11 September 1965. Ia menjadi profesor ilmu-ilmu tentang Indonesia di sana. Kakaknya, DN Aidit, tewas tertembak di Boyolali. "Untung saya di Peking, kalau tidak, saya tertembak atau dibuang juga ke Pulau Buru," katanya. Sejak itu, ia tak pulang lagi. Ia kemudian pindah ke Perancis 23 tahun silam. beruntung, ia segera mendapat hak kewarganegaraan, juga membuka restoran Indonesia yang laris di kawasan Luxembourg, pusat kota Paris.
Di masa orde Baru, ia tetap menulis ke media-media di Indonesia dan di mana-mana dengan nama samaran. "Saya punya 25 nama samaran selama 32 tahun," katanya tertawa. Dengan paspor Perancis ia juga sudah beberapa kali berkunjung ke Jakarta. Sobron kerap menerima tamu orang Indonesia, wajah-wajah yang memuaskan kerinduannya ke tanah airnya itu. Juga saya yang datang dari kota London.v
Sore itu, ia melepas kami yang hendak berpesiar ke pusat kota Paris. benar kata Sobron, tidak sulit menjelajah kota ini bagi mereka yang telah terbiasa bepergian di kota London. Kereta bawah tanah Paris, Metro mirip dengan Tube di kota London. Bedanya, Metro juga adalah kereta api permukaan yang di banyak jalur menyelam ke kedalaman bumi.
Saya menikmati matahari senja kota Paris dengan menyusuri Champs Elysees dari ujung ke ujung, berjalan kaki perlahan-lahan dari arah Musee du Louvre ke ujungnya yang lain di tempat Arc de Triomphe kokoh berdiri menantang angkasa. Permukaan bata Champs Elysees mengingatkan saya pada cerita Alexander Dumas tentang Count of Monte Cristo. Di atas jalan inilah, berabad silam, roda kereta berkuda sang pelaut berderak menjemput Mercedes, sang kekasih, juga mencari lawan-lawan lamanya.
Malam telah turun ketika kami tiba di stasiun Invalides, berkereta bawah tanah menuju Chatelet Les Halles dan berganti kereta menuju Val de Fontenay. Di sana, Sobron Aidit telah menunggu kami dengan ramah, bercerita panjang dan melanjutkan mimpi tentang Indonesia. (Tomi Lebang)
semoga tanah indonesia juga merasa tidak bahagia atas ketidak bahagian kebahagian yang tidak bahagia.
from: yang tak pernah bahagia
babel_pdx@yahoo.co.id
Posted by: babel_pdx | July 04, 2009 at 04:54 AM
Selamat jalan pak Sobron...walaupun saya belum lama kenal dan tdk kenal beliau secara langsung, tapi saya selalu mengikuti tulisan beliau,waktu beliau aktif menulis di milis Belitungisland.com, saya baru tau beliau sudah pergi ketika sadar tulisan beliau sudah tidak pernah terdengar lagi di milis...
tidak salah kalau beliau bangga dan cinta pada Belitung...karena saya orang belitung juga yang merantau...semoga Beliau istirahat dengan tenang....amin
Posted by: eli januar | May 19, 2007 at 08:58 AM
Ada tulisan menarik mengenai Sobron di Kompas minggu, pertengahan january.
Posted by: Matahari | March 04, 2007 at 04:09 AM
Turut berduka cita...
Posted by: hani | February 14, 2007 at 08:59 AM
Selamat jalan, Pak Sobron. Dikebumikan di Perancis atau di Belanda ? Mas Susilo, kalau tinggal di Bromley, London Tenggara (?) secara tradisional harus dukung klub sepakbola apa ? Apa Charlton ? Makasih.
Posted by: Bambang Haryanto | February 12, 2007 at 03:29 AM
Kasihan sekali...kerinduan selama berpuluh-puluh tahun dengan tanah airnya. Selamat jalan pak Sobron.
Posted by: Luky | February 12, 2007 at 03:07 AM
Turut berduka cita juga atas berpulangnya pak Sobron Aidit.
Posted by: Arki Rifazka | February 11, 2007 at 07:14 PM