Beberapa hari ini, setiap bangun tidur, pertanyaan pertama saya dan suami adalah: "Sudah meninggal belum?" Tentu saja, yang dimaksud adalah kondisi terakhir mantan Presiden RI Soeharto. Bukan berarti kami mengharapkan 'Bapak pembangunan nasional' itu segera menemui ajalnya, tetapi lebih kepada keingintahuan kami akan kondisi terakhir mantan orang nomor satu Indonesia itu.
Dan sepertinya pertanyaan itu ada pada hampir semua orang Indonesia saat ini, di mana pun berada. Bahkan bagi kalangan pekerja pers, pertanyaan itu telah dimulai sejak 1999, pertama kalinya Soeharto sakit dan dibawa ke rumah sakit.
Soeharto pertama kali diberitakan sakit pada bulan Juli 1999, stroke ringan dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Setiap media mengirimkan minimal satu dari wartawannya untuk melaporkan langsung dari rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan itu. Dan di kantor beberapa orang ditugaskan untuk menyiapkan laporan khusus seandainya Soeharto meninggal.
Sakit Soeharto saat itu dikabarkan terjadi setelah makan nasi kebuli dari anaknya, Bambang Trihatmodjo dan durian kiriman kedutaan Thailand. Entah benar atau tidak, tetapi itulah kabar yang saya dengar saat itu.
Para wartawan akan mengabarkan up to date perkembangan kesehatan, yang sebenarnya tidak banyak yang bisa dilaporkan karena hanya bisa mengandalkan konferensi pers dari tim dokter atau sesekali bocoran berita -pihak keluarga atau petugas RS- yang sering disebut media sebagai narasumber 'orang dalam'.
Untuk mengisi kekosongan berita kondisi kesehatan si pasien, maka wartawan akan melaporkan siapa-siapa yang berkunjung dan mewawancari mereka. Beberapa bersedia berbicara dan tidak sedikit juga yang menolak, bahkan ada yang menyelinap dari pintu lain untuk menghindari pencari berita.
Namun setelah pulang dan kembali ke RS lagi dan kemudian pulang lagi, Soeharto belum saatnya dipanggil Yang Maha Kuasa. Sakitnya hanya meninggalkan mulut yang sedikit 'mencong' dan membuatnya sulit berbicara. Itu pun dengan terapi lanjutan, kondisinya terus membaik. Sejak itu, beberapa kali ia sakit dan dirawat di RS tapi pulih dan kembali bisa muncul di publik, terutama jika ada acara keluarga. Namun tidak sekali pun datang ke pangadilan, alasan para pengacaranya, tidak fit secara mental dan fisik.
Laporan khusus kematian Soeharto pun tidak jadi diturunkan, tersimpan di file semua kantor media di Indonesia. Di up date lagi ketika penguasa Orde Baru itu sakit, dan kembali disimpan ketika ajalnya belum tiba.
Hampir sepuluh tahun sejak dipaksa turun dari kekuasaan pada bulan Mei
1998, dan sembilan tahun sejak ia pertama sakit, tokoh yang berkuasa
selama 32 tahun di Indonesia ini kembali sakit dan dirawat di rumah
sakit yang sama di Jl Kyai Maja Jakarta. Kali ini dianggap sangat serius kondisinya, bahkan beberapa kali sempat kritis. Media kembali menugaskan
wartawannya untuk 'ngepos', berjaga di RS dan beberapa di kantor meng-up date
laporan khusus yang telah disiapkan sejak 1999.
Aktivitas wartawan dalam melaporkan sakit Soeharto kurang lebih masih sama dengan ketika saya masih di Jakarta dulu, bergantian berjaga di RS, mengandalkan berita dari konferensi pers dokter dan komentar narasumber orang dalam: keluarga atau pihak rumah sakit. Sesekali berita diselingi dengan laporan siapa-siapa yang menengok Soeharto, semakin terkenal orang itu semakin besar berita.
Tidak hanya media yang menyiapkan kematian Soeharto dengan laporan khususnya, banyak pihak, sampai ke Pemerintah Daerah Surakarta tempat Astana Giribangun, makam yang sudah dipersiapkan untuk Soeharto, di sebelah istrinya Tien Soeharto yang telah mendahului pada April 1996, juga menyiapkan skenario. Kepolisian dan militer juga berjaga, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mempersingkat lawatannya dari luar negeri dan stand by di tanah air. Wakil Presiden Jusuf Kalla setidaknya telah dua kali menengok ke rumah sakit.
Menurut yang saya baca, Presiden SBY akan memimpin pemakaman yang akan dilakukan dengan upacara militer. Lima pesawat militer disiapkan, hotel-hotel di Surakarta sudah fully booked, dan doa-doa terus dipanjatkan oleh banyak tokoh semua agama.
Ketika Bu Tien, begitu mantan ibu negara biasa disapa meninggal, ibu saya berkomentar: " Beruntung sekali Bu Tien meninggal ketika suaminya masih berkuasa, karena yang ia dapatkan adalah pemakaman agung". Karena menurut ibu saya, jika meninggal sudah tidak lagi berkuasa, pasti akan di-kuyo-kuyo, dinistakan atau dihinakan.
Ternyata 'ramalan' ibu saya salah, tidak ada tanda-tanda Soeharto akan di-kuyo-kuyo ketika meninggal nanti. Kemegahan pemakanannya sepertinya tidak akan kalah dengan Bu Tien, bahkan mungkin akan melebihi. Karangan dan taburan bunga yang mengiringi kepergiannya kembali akan membuat para pedagang bunga, khususnya di Jawa tengah dan Jakarta, panen order. Kenyataan bahwa pemerintah sangat memberi perhatian dalam persiapan kematian Soeharto, namun selalu terlihat setengah hati dalam kasus-kasus pengadilan Soeharto ini juga membuat heran dua koran besar Inggris, the Times dan the Guardian.
Dari begitu banyak slogan yang dipopulerkan Soeharto dan Orde Baru-nya, salah satunya adalah: "bangsa yang besar adalah yang menghormati jasa pahlawannya". Seandainya dalam sakitnya, Soeharto mengetahui persiapan pemerintah akan kematiannya, pasti ia akan sangat bangga akan bangsanya.
Pertanyaannya kemudian, apakah kita menganggap Soeharto sebagai pahlawan?
*Jawa Pos, BBC, the Times, and Guardian (inc pictures)



terimakasih bpk pembangunan ( Bpk Soeharto ) yg telah berjuang to kemakmuran rakyat dng tri logi pembanguan moga diterima disisiNya di ampuni segala dosanya dijadikan penghuni surga adn
Posted by: is maji | February 04, 2012 at 09:55 AM
sy mau tanya dg org2 yg trllu membeci SOEHARTO, apa dasarnya dia benci dg SOEHARTO, apakah dia pernah disakiti oleh SOEHARTO, apakah istrinya diambil SOEHARTO atau apa sehingga membuat mereka sangat benci dg SOEHARTO,.. sy bukan membela SOEHARTO tp saya salah satu orang yang SIAP PERANG karena SOEHARTO,... (SEPAGASAN)...
Posted by: abi suttan | October 16, 2009 at 03:26 AM
Soeharto cocok pemakaman Umum aj... karna dia semua rakyat menderita Fuck you soeharto...
mengapa tidak dari dulu kamu mati...
Hidup SBY lanjutkan........!
Posted by: Dermawan | July 30, 2009 at 04:04 AM
mungkin Pak Harto jg g begitu peduli mo dianggap pahlawan /bukan. Orang kita ini kan orang2 aneh tdk pernah pakai otak kalo mikir, kalo pas seneng, senengnya b'lebihan tp kalo benci, bencinya jg over. mending lu jual aja otakmu ke tukang loak mungkin harganya mahal krn gak pernah dipakai. Bagi saya dia pernah berjuang utk negara bahkan kalo sukarno tetep mimpin belum tentu juga Indonesia semaju ini. So He's still my HERO.
Posted by: puji | May 13, 2009 at 09:30 AM
cape de...yang muncul celaan mulu,mari jo(kalo bisa)biking Indonesia maju.Jakarta aja banjir nggak (ada yg) bisa ngurusin..wuih..
soal 'pahlawan'tanya sama gedong gajah eh museum...
Posted by: kelana | February 02, 2008 at 01:43 PM
Kalo menurut saya sih... dia sama sekali gag pantes disebut pahlawan. Bapak pembangunan, swasembada beras...i dont care !!! sebenernya dya bukan membangun..tapi menjatuhkan !!! segala kekayaan kita yang dijaga dan dipertahankan Bung Karno..diobral ke pihak asing. Semua gedung2 mewah itu gag bisa membayar 800.000 nyawa manusia tidak bersalah !!! coba wktu itu ia tidak berkuasa... mungkin kita lebih maju dengan politik asia-afrika yang susah patah direncanakan Bung Karno, dan tidak perlu menyusu pahitnya hutang ke luar negeri dengan tetap BERDIKARI
Posted by: Dee | January 30, 2008 at 05:09 AM
Rani, miss u...
& miss juga ama tulisan2 Rani yang kayak gini:)
Tapi ga tau napa ya, beberapa kali ninggalin komen awalnya masuk, tapi pas nengok lagi hilang Bu. Apa mungkin pengaruh koneksi ya...
Btw, kalo aku sih berpendapat gini Ran. Terlepas dari 'kejahatan' yang telah dilakukan Soeharto, saya pikir masih banyak juga kok hal2 baik yang dilakukan oleh bliau. Waktu jaman bliau, ga ada tuh sampai yang antri minyak tanah kyk yang byk t'lihat sekarang...
Posted by: nisa | January 18, 2008 at 12:06 PM
Yang akan selalu de kenang sebagai peninggalan soeharto adalah:
puskesmas.
karena skrg de lihat pemerintah gak sepeduli itu dengan masyarakat kecil.
Dibalik apapun yang telah soeharto lakukan terhadap bangsa ini, tidak bisa dipungkiri banyak hal juga yang telah dia lakukan. untuk itu dia masih layak disebut pahlawan.
Posted by: de | January 18, 2008 at 01:18 AM
tidak ada manusia sempurna..., tetapi setiap orang yang telah memberikan kontribusi dengan tenaga dan pikiran kepada negaranya layak disebut pahlawan..., kalo sekarang banyak orang yang pingin dianggap pahlawan tanpa melakukan apa-apa, cuma mulutnya saja yang banyak omong dan protes, saya pikir sampai kapanpun orang seperti itu tidak layak dijadikan pahlawan...
Posted by: tjhoro | January 17, 2008 at 06:10 AM
nggak cuma elo Ran, banyak banget orang di Indonesia yg tiap liat TV pasti nanyanya gitu, "udah meninggal?" :D
Posted by: yanti | January 16, 2008 at 09:26 AM