« The bicycle ride, sort of | Main | Spring is in the air »

May 06, 2008

Mistakes made, lessons learned

Permitted_3

Basa-basi bukan sesuatu yang saya kuasai dengan baik. Semisal saya diminta menuliskan tentang apa yang paling tidak bisa saya lakukan, jawabannya adalah basa-basi. Basa-basi di sini bukan dalam arti negatif, tetapi lebih pada berbicara dengan santun.

Sebaliknya saya punya teman, tidak terlalu akrab karena usia dll saya perlu  menaruh hormat, tetapi masih dalam kategori teman, sangat ahli dalam hal basa-basi. Kemampuan itu juga ada pada anaknya, yang meskipun masih SD gaya bertuturnya luar biasa, juga dalam pemilihan kata.

Begitu piawi dia dalam berkata-kata dengan sangat sopan saya tidak berani berkunjung ke rumahnya sendirian. Membayangkan saya harus bicara berdua, dalam waktu cukup lama, tanpa orang lain menyela pembicaraan sungguh membuat saya takut.  Karena pengalaman mengajarkan, semakin saya berhati-hati, justru kemungkinan salah bicara makin besar.

Seorang teman dekat sampai saat ini masih terbahak setiap ingat ketika suatu hari ahli basa-basi itu datang ke rumah saya dan berkomentar, " Wah TV mu besar yaa?". Saya sama sekali tidak tahu bagaimana membalas komentar basa-basi itu. Setelah berpikir cepat, dengan panik, meluncurlah jawaban, " Ah nggak kok Mbak, ini karena ruangannya kecil, jadi TV terlihat besar."

Dan sejak itu menurut  sahabat saya yang juga tidak berani bertandang ke rumah beliau itu sendirian dan juga selalu takut salah bicara, " Rani-panik- ketika- dibilang- TV-nya- besar- dan- menjawab -dengan- ah- nggak- itu- karena -ruangannya- kecil", adalah " my greatest achievement " dalam berbasa-basi.

Saya pikir, berbasa-basi adalah kemampuan yang kita born with, bawaan dari lahir. Karena itu orang seperti teman saya itu tidak perlu effort, tidak perlu belajar dari kesalahan (pasti tidak pernah salah bicara) , atau berpikir dengan setiap kata yang ia ucapkan.

Hingga pada satu hari teman yang lain sakit yang tidak ringan dan saya pun mengabarkan pada si ahli basa-basi itu, kebetulan ia juga kenal dengan si sakit ini. Dan tanpa saya sangka ia bertanya, " Aku harus ngomong apa ya? Yang bisa menghibur , ikut merasakan sedihnya tetapi tidak membuat ia merasa kita  'pity', mengasihaninya, berbelas kasihan yang bisa membuatnya makin down".

Ternyata, mengapa teman yang saya katakan ahli basa-basi itu selalu berbicara dengan kalimat yang tepat, karena ada effort, ia berbicara dengan lebih dulu dipikir, ditimbang baik-buruk akibat dari kalimat yang akan diucapkannya.

Think before you talk, sama halnya dengan read (again) before you send, yang selalu saya ingat setiap berkirim email.

Teman saya yang lain saya kagumi karena dia sangat berani dalam berargumentasi, di mana saja, kalau ia merasa perlu mengungkapkan pendapatnya maka ia akan bicara. Tanpa takut, meskipun tidak jarang karena pendapatnya itu timbul perdebatan lanjutan.

Sebaliknya saya sering menyesali perkataan yang saya ajukan, " I wish I didn't say that", begitu saya sering menyesal. Karena alasan itu saya kadang-kadang memilih diam meskipun saya tidak setuju dengan sebuah pendapat. Tapi tidak dengan teman saya itu, saya pikir itu karena ia tidak pernah salah dengan keputusannya untuk menyampaikan sesuatu.

Suatu hari di sebuah acara, seperti yang biasa ia lakukan, ia memberikan pendapatnya saat terjadi perdebatan. Juga ketika ia bertemu dengan seseorang setelah acara selesai ia terlibat dalam perdebatan cukup hangat.

Sepulang dari acara itu ia menginap di rumah saya, dan ketika sampai ia berkata, " Oh, I wish I didn't say that and keep my mouth shut," katanya. Tidak hanya itu, dengan perdebatannya di luar acara pun ia menyesal, " I shouldn't push her and stop right there when clearly she didn't comfortable when I brought up the subject".

Setelah itu ia berkata, " Well, you know me, never give up easily, but next time better, Insya Allah," katanya.

Ternyata tidak hanya saya pernah salah bicara dan menyesal dengan apa yang saya ucapkan. The difference is bagaimana kita belajar dari kesalahan itu.

* Foto dari flicker via ini

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://www.typepad.com/t/trackback/230840/28779276

Listed below are links to weblogs that reference Mistakes made, lessons learned:

Comments

cerita menarik *bukan basa-basi lho ini...hehehe*

Bu, awas lho, diem2 beliau baca blog-mu. Hahaha...

de paling gak bisa juga mbak. kelemahan de nomor 1 itu adalah berkomunikasi. gak cuma bicara...menulis pun sulit untuk de. walo cuma blog pribadi aja, sering baca ulang sebelum klik publish

di sini juga ada ahli basa-basi, bu
buntutnya : lebih baik mengundurkan diri dan menjaga jarak.

Post a comment

If you have a TypeKey or TypePad account, please Sign In