Ada yang tahu siapa yang pertama kali menciptakan kue lapis? Karena berarti dialah pemegang copyright-nya.
---
"Mbak, boleh tidak saya copy tulisannya?" Atau "Mbak, resepnya boleh dicontek tidak?" And you know what, saya kadang justru balik bertanya, "Kenapa pakai tanya segala?" Tentu saja boleh. Silakan, monggo, please do, silakan dicicipi eh dicoba, jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri.
"Kan banyak Mbak yang nggak boleh kalau di-copy tulisannya atau resepnya ? Well, that's not me. Saya malah senang (sekali) kalau ada yang mengaggap tulisan saya bermanfaat dan ingin meng-copy. Dan, satu lagi, tidak penting nama saya kemudian dicantumkan atau tidak.
Lumpia atau spring roll itu asalnya dari Cina bukan?
Tulisan yang insisted untuk dicantumkan nama adalah saat menulis untuk surat kabar tempat saya bekerja. Itu karena keharusan, SOP-nya seperti itu. Dan ini terkait dengan tanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Bukan karena sombong-sombongan, ingin menunjukan sayalah penulisnya.
Jadi, kalau ada pihak yang merasa dirugikan dan kemudian menuntut, saya yang harus ke pengadilan (biasanya sebagai saksi karena yang paling bertanggung jawab tetap pemimpin redaksi) dan kalau ada kesalahan dalam tulisan itu maka saya pula yang paling bertanggung jawab dan kena marah atau ditegur, tergantung kadar kesalahannya.
Juga, kalau ada pihak yang tersinggung atau merasa dirugikan oleh tulisan tersebut bisa dengan mudah mem-banned penulisnya. Sebagai contoh, kabarnya, karena tulisan tentang pemilu lalu itu, ada instruksi di sebuah institusi kepada pegawainya untuk tidak berbicara ke saya, ever.
Oh, dan tentu saja, karena pencantuman nama di sini menyangkut juga penghitungan gaji. Di surat kabar biasanya ada bagian administrasi yang menghitung tulisan wartawan, cara meghitungnya yaitu dari nama di artikel tersebut. Sedangkan kualitas tulisan biasanya dinilai oleh redaktur bidang (desk editor - begitu istilah di media). Quantity dan Quality tulisan ini kemudian berpengaruh pada gaji tambahan, selain gaji pokok. Juga menentukan prestasi dan tunjangan prestasi.
Anyway, masalah copy-meng-copy ini sepertinya sangat sensitif di dunia internet, apalagi kalau sudah menyangkut COPY PASTE. Banyak yang (sangat) marah kalau di-copy paste. Padahal justru metode inilah yang biasanya saya sarankan, "Di-copy paste saja dari blog saya biar mudah dan tidak repot". Kalau pun ada tambahan biasanya adalah, "Tapi jangan dibilang-bilang kalau diambil dari blog saya" atau "Jangan bilang-bilang kalau saya punya blog". Kenapa Mbak? "Malu, soalnya isinya kacau dan tidak mutu".
Onde-onde tampaknya dari Cina juga, karena di toko Cina di London dijual onde-onde asli Cina.
Setiap akan mendiskusikan masalah copyright, tulisan terutama, saya selalu ingat kata-kata my partner in crime, "Emangnya siapa juga yang mau ngopi. Ge-er amat?" Begitu kami berkomentar cengengesan padahal dalam hati dongkol setiap ketemu website yang menulis copyright besar-besar dan tidak cukup satu, bahkan menurut teman saya ini, peringatan tidak boleh meng-copy itu lebih gede dari artikelnya."Kalau dibaca yang kelihatan lebih jelas justru tulisan DILARANG MENG-COPY", katanya. Biasanya kami kemudian berjanji tidak akan lagi mengunjungi website yang galak itu.
Well, menurut saya, yang adalah penulis amatiran dan tidak jelas ini, kalau kemudian ada yang meg-copy justru harusnya bersyukur. Karena setidaknya makin tersebar tulisan kita bukan? Artinya makin luas diedarkan dan makin banyak yang baca. Alhamdulillah, kalau kemudian tulisan itu ternyata ada manfaatnya.
Siomay pun masih keluarga besar Dim Sum yang juga dari Cina.
"Tapi, yang baca tidak akan tahu kalau tulisan itu adalah hasil jerih- payah-banting-tulang-keringat-bercucuran-dan- derai-air-mata-saya." Begitu komentar yang mungkin terdengar. So what?
Tapi ini adalah pendapat saya pribadi (dan pendapat ini juga boleh di-copy) dan bagi yang keberatan tulisan atau resepnya di copy, itu sah-sah saja dan saya pun menghormati keputusan tersebut.
Lalu bagaimana caranya memastikan tulisan kita tidak di-copy orang tanpa ijin? Do what JK Rowling did. Untuk menjaga kerahasiaan jalan cerita Harry Potter sebelum dibuat bukunya, ia menyimpan coret-coretan plot buku Harry Potter ditempat rahasia yang hanya dia yang tahu. Dengat kata lain, jika takut di-copy, simpan tulisan atau resep Anda di bawah bantal atau di lemari terkunci.
Atau lakukan seperti umumnya beberapa penjual makanan sukses, resep mereka yang dijaga ketat kerahasiaannya (over my dead body!) hanya akan disampaikan turun temurun. Tidak ditulis, karena takut dibaca/dicuri orang yang tidak berhak. Atau kalau mengikuti Mr. Willy Wongka, jangan mempekerjakan manusia tetapi gantilah karyawan Anda dengan Oompa Loompa.
Dan tentu saja, jangan di-posting di internet! Easy peasy.
Dan tenyata pisang goreng pun (atau nama lainnya banana fritter) ada juga di Thailand.
Jadi, bagi yang bertanya ke saya, boleh atau tidak? Insya Allah, siapa saja boleh meng-copy dan menyebarluaskan isi blog ini dan juga resep-resepnya. Mau copy-paste juga boleh. Tidak dicantumkan nama atau sumbernya juga tidak apa-apa. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah timbangan amal saya nanti.
One more thing, kalau mau mengirimkan hasil masakannya ke saya juga welcome!
* Resep makanan-makanan di atas menyusul kapan-kapan, bukan dirahasiakan tetapi karena belum punya waktu dan mood (baca: masih males) untuk upload resep. Karena saya kalau memasak tidak pakai ukuran tetapi pakai perasaan, jadi agak ribet setiap menuliskan resepnya, harus pakai ditimbang.
Kalo lo di Amsterdam, dah gw cium lo saking demennya gw ame pikiranlo!
>> I'm flattered. Many thanks
Posted by: AuroraBelle | August 07, 2009 at 04:38 AM
"Institusi" yg mana nih? *wink* Perlu disediain d "whistleblower"?
Posted by: murni | June 15, 2009 at 09:15 PM
hmmmm jadi tambah salut sama mbak rani.
Stuju berat sama tulisan ini, toh katanya semakin kt membagi ilmu untuk orang lain, semakint ilmu kita bertambah bukan..bukan berkurang kok. Lagian falsafahku rejeki itu sudah ada yang ngatur, tidak perlu takut akan prasangka kita akan masa depan.
Mbak Rani..nanti resep spring rollnya diposting ya mbak, supaya aku bisa copy ket, buat jualan mbak..heheh. Soalnya penampakannya kok kayaknya "crunchy" banget. Psstt tp pembagian hasil keuntungan kayaknya gak bisa sampe london niy..ahhahahahaha..
Posted by: luky | June 05, 2009 at 07:49 AM
Jadi inget "the secret ingredient" bapak nya Po (Kungfu Panda) ...
kalo secret ingredient-nya Rani.."pakai perasaan"...
Posted by: ephoy | May 28, 2009 at 05:30 AM
Assalamu'alaikum. Mba, apa kabar? Postingan mba akhir2 ini bikin ngiler bgt. Kemarin2 rujak.. sekarang pisang goreng dan siomay. Enak bgt kayaknya mba. Jd tambah kangen jajan2an di Indonesia. :-(
Posted by: ita | May 27, 2009 at 07:38 PM