Sejak belum berkeluarga saya sering menyaksikan ibu-ibu (atau pembantu/asisten atau nanny or babysitter) memberi makan anak dengan menyuapinya. Karena bukan lagi bayi, sambil makan si anak berlari kesana kemari. Dan si pemberi makan harus mengejar anak untuk suapan berikutnya.
This image begitu melekat dalam otak saya: seorang ibu dengan memegang piring membuntuti kemana anaknya bergerak, untuk kemudian menyuapkan nasi ke mulut si anak.
Proses itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya makanan di piring habis, tapi tidak jarang juga makanan masih tersisa.
Memberi makan dengan kejar-kejaran ini saya perhatikan tidak hanya terjadi di rumah tapi juga dilakukan di luar, seperti di restauran, di halaman rumah, di taman, bahkan di pesta atau di acara kumpul-kumpul dengan keluarga atau teman.
Kirana's and she said," Mummy, I'm not a baby, you don't need to cut my meat". Ops sorry.
Saya menduga karena ibunya (berpikiran) sangat sayang kepada anaknya dan juga, maybe, kurang kerjaan. I was like, no way kalau punya anak nanti saya menghabiskan waktu 1-2 jam untuk memberi makan satu anak. Don't get me wrong, bukan karena saya tidak sayang anak, justru sebaliknya.
The most depressing sight adalah saat proses kejar-mengejar ibu dan anak itu terjadi di acara kumpul-kumpul keluarga atau teman. Karena sibuk kejar-kejaran, si ibu tidak ada waktu untuk bersosialisi dengan para tamu yang lain. Apalagi membantu tuan rumah dengan misalnya ikut menyiapkan hidangan atau beres-beres.
Baru misalnya ngobrol pembuka dengan satu teman, kemudian dipotong karena harus mengejar anaknya untuk suapan berikutnya. Begitu seterusnya. Jika untuk berbicara dengan tuntas saja tidak sempat, tentu kerepotan si tuan rumah akan lepas dari perhatiannya.
Mummy needs to eat too. Menu yang sama, hanya saja tanpa dipotong dan dilengkapi sambal.
Memberi makan adalah salah satu contoh kasus saja, masih banyak kerepotan-kerepotan (yang tidak perlu) lain dalam hubungan ibu-anak. Tidak heran kalau ibu dan anak sering kali not welcome pada banyak acara. Ribet.
Ketika dulu saya belajar ekonomi ada istilah pengangguran terselubung yaitu seseorang itu bekerja tetapi sebenarnya pekerjaan itu bisa saja tidak ada. Artinya pekerjaan itu ada sekedar untuk mengakomodasi banyaknya tenaga kerja yang tidak terpakai.
Dan pada banyak kasus kerepotan ibu dengan anaknya, seperti spending 1-2 hours hanya untuk memberi makan di atas, menurut saya, jika diletakan dalam kerangka ekonomi ada pada kategori pengangguran terselubung. Repot atau ribet karena dibuat sendiri, yang sebenarnya tidak perlu.
Kenapa itu terjadi? Kalau meminjam istilah Bu Elly dan Bu Wiwi , bagaimana anak kita itu tergantung pola asuh. Jika kita memakai pola asuh anak untuk menjadikannya merepotkan, maka kerepotan itu pula yang kita dapatkan.
Sebaliknya, jika salah satu dari goal parenting kita adalah untuk menyiapkan anak menjadi an adult who can function in the outside world, maka pada usia tertentu anak-anak bisa mulai berfungsi tanpa perlu banyak bantuan dari ibunya.
Tidak perlu pula satu anak satu pengasuh. Sebuah tren yang menurut cerita berkembang pesat di Indonesia beberapa tahun terakhir. Sesuatu yang sulit saya pahami alasannya. Why? Just because you can afford it? or feeling guilty ? or what?
Karena jika dihubungkan dengan tujuan parenting berikutnya yaitu untuk menyiapkan anak who can cope with the knocks off life and bounce back, keputusan mempekerjakan seseorang dengan job description melayani anak bagaikan prince or princess, apalagi satu orang per anak, justru sangat kontra produktif.
Finished, no more than 10 minutes.
Anyway, jika pola asuh dilakukan dengan seharusnya. Not only para ibu kemudian punya waktu (dan pikiran) untuk urusan rumah yang lain dan juga suami - jangan lupa, he needs you as well as your kids- atau teman, juga bisa bermanfaat untuk orang lain. Dari mulai yang kecil, mengulurkan tangan ikut membantu tuan rumah saat ada acara, hingga bermanfaat untuk orang lain dalam lingkup yang lebih luas, di masyarakat sekitar, hingga urusan "besar" yang lain.
And best of all, your friends will love you and your children more. Tidak menggerutu dalam hati, tetapi justru senang ketika kita dan anak-anak bersama mereka. Karena dengan pola asuh yang baik akan menghasilkan anak yang well-behaved, mandiri, dan punya rasa tanggung jawab." Khusus buat kamu, boleh bawa anak," is very helpful indeed, jika seperti saya, sering dituntut hadir dalam sebuah acara namun pada saat yang bersamaan tidak mungkin meninggalkan anak.
Atau ketika perlu menitipkan anak, siapa pun akan berebut untuk menjaga anak kita. Tidak ada yang lebih melegakan ketika teman kita berkata dengan tulus, "Take your time, don't worry about your kids," saat kita ada satu urusan penting di luar rumah.
Dan goal parenting yang lain pun mulai terlihat hasilnya, yaitu anak kita tumbuh menjadi the sort of people we would like to spend time with.
Jadi, mau repot atau tidak repot dan akan tumbuh seperti apa anak-anak kita, the choice is yours.
* pics taken with iphone. I dont know what happened, but somehow the pics is the other way around. Since the technician is away, I have no idea how to fix it. Apologize for the not so perfect images.
hehe..untunglah utk urusan makan memakan Aisha bukannya dikejar2, justru dia yg ngejar2 mamanya....minta nambah. hehehe.... *niru siapa ya?*
>> Siapa dulu dong para ibunya :) sbg kita suka kalap kan kalau pesan makanan. Udah gitu pakai sok kaget tapi kenapa habis hahaha
Posted by: karin | July 23, 2009 at 07:16 AM
I wish I could mbak Ran... Bener banget seperti yg dikatakan mbak rani...merepotkan. Aku ngalamin sendiri niy.
Posted by: luky | June 29, 2009 at 09:15 AM