
Minggu malam, ketika menyalakan TV tanpa sengaja saya melihat di BBC Two sebuah program dengan setting yang familiar: perumahan, jalanan, dan bajaj! " Kayaknya ini di Jakarta deh," kata saya ke suami. Dan ternyata benar adanya.
Program yang saya tonton itu adalah bagian dari seri "The Toughest Place to be...." dan Jakarta diangkat pada episode yang berjudul berjudul "The Toughest Place to be a Binman" atau kurang lebihnya adalah tempat (kota) paling berat untuk menjadi tukang sampah.
Karena hanya melihat bagian akhir dari acara tersebut maka saya menonton versi lengkapnya di BBC iPlayer yaitu siaran ulang program-program BBC di www.bbc.co.uk. Sayangnya iPlayer ini hanya bisa di tonton dari Inggris.

Anyway, program tersebut menampilkan kehidupan dua orang tukang sampah, satu dari London dan satu dari Jakarta. Wilbur Ramirez, tukang sampah yang bekerja di kawasan Hammersmith and Fullham, London Barat dikirim ke Jakarta selama 10 hari untuk melihat dan merasakan profesi yang sama di Jakarta. Partner kerjanya di Jakarta adalah Imam Syaffi, tukang sampah di wilayah Guntur, Jakarta Selatan.
Bisa dibayangkan kalau Wilbur shock dengan beban kerja Imam Syaffi yang sangat berat dibanding dengan pekerjaannya di London. Belum lagi dengan penghasilan yang diterima Imam Syaffi.
Imam Syaffi seperti halnya para tukang sampah di Jakarta berkeliling dari rumah ke rumah di wilayah kerjanya (sekitar 100 rumah) dengan menarik gerobak sampah. Pakaian dan alas kaki (bahkan Imam Syaffi bertelanjang kaki) yang dipakai tidak ada bedanya dengan keseharian. Tidak ada yang khusus.
Tidak juga ia memakai alat canggih untuk membantu mengambil sampah dari setiap rumah dan memasukannya ke dalam gerobak. Selain gerobak, ia hanya membawa sapu dan keranjang.
"This is crazy. I wouldn't do it. Well, the health and safety wouldn't let me to do it, " komentar Wilbur ketika dengan kaki telanjang, Imam Syaffi memadatkan sampah dengan menginjak-injak tumpukan sampah dalam gerobaknya.
" We have a department to do this, " tambahnya ketika melihat Imam Syaffi masuk got dan membersihkannya hanya dengan tangan dan tanpa alas kaki.

Meskipun ada beberapa rumah yang memasukan sampah ke dalam kantung-kantung plastik, tidak sedikit yang menumpuk sampah begitu saja di lubang sampah di tembok depan rumah. Kerja tambahan bagi Imam Syaffi. Apalagi dengan tanpa kebiasaan dan aturan untuk melakukan recycling, maka segala jenis sampah bercampur menjadi satu.
Kadang, seperti yang disaksikan Wilbur, Imam Syaffi juga membersihkan got di depan rumah karena sampah yang tidak ditaruh di plastik oleh penghuni rumah berceceran dan sebagian menyumbat saluran air. Tidak jelas apakah membersihkan got termasuk dalam tanggung jawabnya, tetapi Imam Syaffi melakukannya karena takut penghuni rumah mengadukan kerjaannya tidak beres. Sekali diadukan maka dengan mudah ia dipecat dari pekerjaannya. " Saya dan keluarga makan apa?", katanya membayangkan kalau hal itu sampai terjadi pada dirinya.
Untuk pekerjaan yang dimulai pk 06.00 dan dalam sehari ia melakukan tiga putaran, Imam Syaffi mendapatkan gaji Rp 900 ribu per bulan. Dengan penghasilkan tambahan dari menjual barang bekas yang ia pilah dari sampah sebesar Rp 200 ribu per bulan, maka dalam hitungan BBC penghasilan Imam Syaffi adalah 78 pounsterling per bulan.
Sebagai orang Indonesia saya memandang pekerjaan dan penghasilan Imam Syaffi sebagai not too bad. Banyak yang penghasilannya jauh lebih kecil di bawah Imam Syaffi -apalagi di luar Jakarta- dengan beban kerja yang tidak kurang berat, bahkan mungkin lebih berat.

Tapi tentu tidak biasa bagi Wilbur, yang sehari-hari berkeliling wilayah kerjanya dengan truk sampah modern berteknologi tinggi. "It's been a bloody hard day and I don't even think I did a full day, I did two out of his three rounds and I was dying," kata Wilbur dengan pengalamannya di Jakarta.
Bisa dikatakan tenaga yang ia keluarkan di London hanyalah menyeret kotak sampah beroda (wheelie bin) dari trotoar ke truknya. Tidak perlu juga ia angkat-mengangkat, karena dengan design khusus pada truk sampah Inggris, ia hanya mengaitkan wheelie bin itu ke truk dan dengan memencet tombol, tempat sampah itu akan terangkat dan otomatis akan menumpahkan isinya ke dalam truk.


Jarak tukang sampah Inggris menarik wheelie bin itu pun hanya beberapa meter karena ada aturan mengenai posisi untuk meletakan tempat sampah di hari pengambilan sampah. Terlalu jauh dari bibir jalan? Tidak akan diambil. Misalnya kita lupa tidak meletakan wheelie bin di pinggir jalan di hari pengambilan sampah yang di London berjadwal seminggu sekali? Goodbye.

Sampah-sampah yang sudah dipisahkan berdasarkan jenisnya, ditaruh terpisah di recycle box: kompos, kertas, botol kaca dan botol plastik dan selebihnya masuk dalam wheelie bin. Masing-masing box recycle dan wheelie bin akan diambil oleh petugas dan truk sampah yang berbeda.
Jangankan berceceran, sampah yang sudah dibungkus rapi namun tidak diletakkan di wheelie bin, tidak akan diambil oleh Wilbur dkk. Begitu pula nasib wheelie bin yang terlalu penuh yang akibatnya tidak bisa tertutup rapat.

Tanpa harus memegang sampah dalam arti sebenarnya, Wilbur memakai seragam "berat": boot, baju dan celana tahan air, rompi reflektif dan kaos tangan, yang berbeda disesuaikan dengan musim apa di Inggris saat itu.
Dan berapa gaji tukang sampah seperti Wilbur di London? Sekitar 21 kali gaji Imam Sjaffi, yaitu 30 ribu pounsterling per tahun atau bersih perbulannya (setelah dipotong pajak dll) 1700 poundsterling.

Selain menarik gerobak sampah di Jakarta, Wilbur juga shock ketika diajak ke Bantar Gebang, tempat dimana sampah dari wilayah Jakarta dikumpulkan. Apalagi ketika ia mendapati banyak keluarga yang tinggal di kawasan pembuangan sampah itu dan bekerja dengan memilah sampah dan menjual hasilnya. Termasuk anak-anak mereka.
Tapi meskipun sangat kontras kehidupan Imam Syaffi dan Wilbur Ramirez, keduanya happy dan menikmati pekerjaannya. Di situlah menurut saya nilai barakah-nya, bagi Iman Syafii terutama dan Wilbur pun belajar banyak darinya. "What I learned from him is to be a bit humble, to be thankful for what you've got."
Recent Comments