Beberapa waktu lalu Evening Standard memberitakan bahwa warga London dan juga Inggris secara umum sekarang
cenderung untuk belanja online. Data menunjukkan mereka yang berbelanja
online semakin tahun semakin bertambah.
Alasan utama, masih dari laporan koran sore London itu adalah kenyamanan. Toko online buka 24 jam, dengan
begitu belanja bisa dilakukan kapan saja. Dan di mana saja, bisa dari kantor dan tentu saja dari rumah.
Kedua, harga barang lebih murah. Ini karena pemilik toko online bisa
memangkas ongkos produksi, tidak harus sewa toko di
jalan besar atau rekrut banyak pegawai.
Contohnya, Amazon (one of our favourite) toko online yang semula hanya menjual buku, kini merambat ke barang-barang elektronik itu, pernah saya lihat di TV hanya berupa gudang, komputer dan pegawai yang tidak seberapa banyak.
Poin kedua ini adalah alasan terkuat kami untuk belanja online. Apalagi saya, kalau istilah suami sebagai 'tidak bisa tidur kalau kedapatan membeli barang kemahalan', meskipun hanya berbeda beberapa pence.
Jangan heran kalau saya hapal setiap item barang kebutuhan sehari-hari kami sampai digit pence, di setiap supermarket di Inggris.
Ketiga, pembeli tak perlu repot angkat-angkat barang karena semua
diantar langsung ke rumah. Yang meskipun dikenakan biaya tambahan, total yang harus dibayar pembeli tetap saja masih murah daripada harga di toko konvensional.
Bahkan, untuk barang dengan harga tertentu tidak dikenakan biaya delivery. Amazon misalnya, pembelian diatas 19 poundsterling adalah free delivey.
Dan kalau dengan suatu alasan pembeli ingin mengembalikan barang itu. Just call their number atau send an email. Barang yang kita beli itu akan diambil, tanpa sedikitpun uang kita terpotong.
Garansi pengembalian barang ini berlaku hingga 48 hari with no hassle, barang sudah dipakai, box sudah dibuka atau tag sudah hilang tetap diterima.
Karena begitu bagusnya perlindungan konsumen di Inggris, alasan apapun juga dibolehkan, dari kondisi barang yang tidak sempurna hingga alasan, berubah pikiran untuk tidak jadi membeli.
Seorang teman bercerita kalau temannya suka memanfaatkan hal itu dengan membeli sebuah buku --yang ia suka--kemudian ketika selesai dibaca dikembalikan lagi ke tokonya dengan alasan ia tidak suka dengan buku itu.
Sebaliknya, saya punya pengalaman menakjubkan mengenai pengembalian barang di tanah air tercinta, tentu saja. Suatu hari saya mengembalikan magic jar yang dibeli ibu saya, yang setelah dicoba di rumah menghasilkan nasi yang gosong.
Setelah di coba dua kali dan tetap gosong, saya dengan berbekal tanda bukti pembelian datang ke Moro, supermarket terbesar di Purwokerto, hari itu juga.
Mereka menolak dengan alasan tag harga sudah tidak ada dan yang lebih tidak masuk akal lagi, karena barang itu sudah dicoba/dipakai.
Toko yang sama juga pernah melarang saya masuk --pintu masuknya dijaga satpam--hanya karena saya dianggap memakai jaket oleh satpam itu. Saya saat itu memakai kaos panjang, tipis, tidak tebal, tapi memang ada hood-nya.
Dengan segala cara--termasuk saya bilang, saya nggak pakai baju lagi didalamnya, sementara kalau jaket berarti saya memakai baju/kaos lain--saya meyakinkan itu bukan jaket, tetap saja si satpam menganggap saya memakai jaket.
Satu-satunya alasan yang membuat saya mengurungkan niat saya untuk melanjutkan dua insident di atas dengan Moro karena kakak saya memprovokasi dengan: "Yang waras ngalah". Tapi kalau suatu hari misalnya Moro--yang laris sekali--itu bangkrut, I won't feel sorry for them, that's for sure.
Speaking of Jacket. Evening Standard juga mencantumkan satu alasan lain, cuaca. Hujan terus-menerus ditambah suhu udara yang
menusuk tulang membuat orang malas berbelanja. Ketika saya menulis artikel ini, hujan baru saja reda setelah seharian tercurah dari
langit.
Saya dan suami sama sekali tidak surprise dengan laporan Evening Standard itu. Kami justru kaget jika ada orang di Inggris or negara maju lain, yang tidak pernah belanja online.
Dari semua barang yang kami beli, 90% nya kami beli online. Sepuluh persen sisanya itu adalah grocery (kebutuhan sehari-hari) serta pakaian dan sepatu yang biasanya saya beli ketika musim sale.
Bahkan kadang-kadang grocery-pun saya beli online, karena supermarket juga menyediakan layanan itu.
Istilah going shopping bagi kami adalah window shopping; lihat-lihat,
pegang-pegang dan mencoba-coba .The real shopping bagi kami adalah
dengan internet.
Kecuali untuk IKEA, satu-satunya toko favourite kami yang tidak melayani online shopping. Segala pembelian tiket, train or pesawat or tiket-tiket lain, kadang-kadang tiket film juga kami beli online. It's cheaper and of course no queue.
Barang termahal yang kami beli online adalah rumah. Yeap, rumah kecil di tepi sungai Thames ini, --di tepi sungai dalam arti yang sebenarnya, karena hanya sekitar 100 meter dari Sungai Thames-- kami beli online. Kami tinggal masukan price range, kondisi rumah --baru atau lama, jumlah kamar, with/without garden, flat/apartmenet/rumah-- dan daerah yang kita inginkan.
Beberapa detik kemudian, muncullah daftar rumah yang matching dengan deskripsi yang kami inginkan. Lengkap dengan alamat, telpon dan email serta website estate agen rumah itu.
Langkah selanjutnya kami tinggal telpon or email satu persatu estate agen itu untuk booking viewing. Setelah viewing dan mantap dengan satu rumah, call the estate agen bahwa kita mau rumah itu.
Kita tinggal call bank untuk urusan mortgage dan surveyor (memastikan the agreed price tidak lebih tinggi dari penilaian bank atas rumah tsb, juga kondisi konstruksi rumah) serta call a solicitor untuk the legal stuff.
Beberapa hari selanjutnya, tiga pihak itu yang akan bekerja. Mereka akan telpon kami kalau ada yang perlu dibicarakan dan send document via pos jika ada yang perlu kami tanda tangani.
Dalam membeli rumah itu kami hanya sekali ketemu pemilik rumah --Andy, ia pindah kerja ke Somerset, Inggris tengah --kurang dari 30 menit ketika viewing rumahnya dan sekali ketemu estate agent ketika mengambil kunci rumah.
Viewing rumah ini terasa special bagi kami karena saat itu tengah hujan salju lebat, terlebat selama sepuluh tahun terakhir, saya sudah sangat putus asa karena sudah beberapa rumah kami lihat tidak juga cocok atau ketika kami suka, orang lain juga suka dan biasanya kami kalah cepat atau di-gazump-ing alias ada pembeli lain yang membeli dengan harga lebih tinggi di last minute.
Pertemuan singkat dengan Andy yang rumahnya yang baru berusia 1,5 tahun itu begitu rapi dan bersih--fyi saya itu 'Monica in Friends' kalau untuk urusan kebersihan-- sangat berkesan bagi kami juga tampaknya bagi Andy.
Terbukti ia prefer us untuk memiliki rumahnya ketika beberapa pembeli lain dalam waktu yang sama dengan kami, juga agreed full asking price. "Alhamdulillah, kalau sudah jodoh tidak akan kemana-mana," begitu kata suami saya but I sensed he wasn't talking about the house.
Everything, selain viewing itu, kami selesaikan dengan internet, telepon dan surat menyurat. Tidak sekalipun kami datang ke bank. Dan meskipun kami akrab dengan solicitor kami, tidak pernah kami bertemu muka.
Barang kedua termahal yang kami beli online adalah mobil. Setelah sekian lama berpikir mobil apa yang kami beli, akhirnya kami memutuskan membeli "the European car of the year" tahun itu. Dan--seperti kami duga--the best price yang kami temui juga disebuah toko mobil online.
Seperti juga rumah, kami tinggal masukan mobil yang kita mau dan berikut spesifikasinya dan dalam waktu tiga bulan --karena mobil itu khusus dibuat dengan spesifikasi kita--mobil itu diantar.
Semua urusan kami selesaikan dengan telpon dan internet. Dan kita saving tidak kurang dari 1000 poundsterling dengan membeli online (£1= Rp 17.000,00) The best deal we have ever had.
Kalau dua barang- termahal -dalam- hidup- kami saja dibeli online, tentu tidak perlu saya jelaskan satu-satu barang lain yang kami beli online. Karena, tidak akan ada selesainya.
Ketika kami memutuskan untuk membeli barang second hand, tetap saja kami beli online. Saya biasanya akan bidding di Ebay which is di depan komputer juga. Jadi kalau saya asyik di depan komputer, jangan berprasangka baik kalau saya tengah doing something produktif, menulis artikel misalnya.
Instead, kalau tidak belanja online ya bidding di Ebay. Karena itu, sering ketika saya benar-benar tengah produktif, suami saya langsung menuduh,"Beli apa lagi". I don't blame him, really.
The hardest part dari shopping bagi kami adalah, ketika satu bulan kemudian kami harus kembali duduk di depan untuk membayar tagihan kartu kredit. Berat disini maksudnya adalah membayar or mengeluarkan uang, bukan karena kami harus melangkahkan kaki kemudian antri di bank.
Karena kami hampir tidak pernah berkunjung ke bank, tetapi memakai online banking. Pergi ke bank bagi kami hanya lah ketika mencairkan cek --yang di Inggris adalah alat pembayaran yang sama populernya dengan cash atau debit/credit card. Jual beli di Ebay juga sering menggunakan cek.
Online banking ini sangat bermanfaat terutama jika suami saya pergi ke luar kota/negeri. Saya tidak pernah direpotkan dengan tugas tambahan membayar tetek bengek tagihan.
I won't mind if you called me matre, --that's what my hubby also says, sometime. I think he's joking, though--because I love the Master Card advert: There is something money can't buy. For everything else there is Master Card.
*Additional reporting by Ayah
**picture: the other reason for shopping online: it's not even load with the shopping yet but I already struggle. Once I let Kirana on loose, and I lost her!
Recent Comments