

Ok, banyak yang minta untuk saya menulis tentang Royal Wedding. Sebenarnya sudah banyak ditulis di media- saya juga melaporkannya di surat kabar tempat saya bekerja- bahkan siaran langsung di televisi. Jadi biar sedikit ada manfaatnya, saya akan coba menuliskan di sini dari sudut yang berbeda.
Seperti yang semua sudah baca, dengan atau lihat, they were millions of people yang terlibat dalam pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Terutama penonton di pinggir jalan yang jumlahnya melebihi sejuta dan banyak diantaranya sudah berkemah setidaknya semalam sebelumnya untuk mendapatkan spot terbaik.
Hal kedua, secara teknis, jika seandainya keramaian ala Royal Wedding itu diadakan di Jakarta, apakah mungkin? No? Why? Kunci kesuksesan Royal Wedding ada pada disiplin, tertib, dan layanan publik. Tiga hal sederhana tapi tidak mudah dicapai karena menyangkut budaya warga dan juga mentalitas.
Mari kita belajar dari Inggris dan Royal Wedding sebelum berharap bisa menyelenggarakan even besar seperti tuan rumah Piala Dunia dan sebagainya di Indonesia.
***


“ Did you see the Queen? Did you see Kate? “
“ I saw David Beckham!”
Adalah percakapan banyak ibu dan anak-anak mereka saat menyaksikan rangkaian acara pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Sebagian besar ibu – dan juga mereka yang memadati jalan di sepanjang rute yang dilewati – tidak bisa melihanya dengan jelas karena begitu banyaknya orang. Mereka yang terhalang pandangan itu hanya bisa bertanya dan mendengar cerita dari yang berada di depannya atau di tempat yang lebih tinggi, seperti anak-anak di punggung orang tuanya.
Pada Royal Wedding di London hari Jumat lalu, antara penonton terdepan di tepi jalan hingga yang paling belakang, setidaknya berjarak 2 meter. Mustahil untuk yang berada di belakang bisa melihat karena terhalang puluhan kepala di depannya dan juga kibaran bendera yang mereka pegang. Kecuali penonton yang membawa tangga lipat dari rumah atau seperti anak-anak di atas, berdiri di pagar atau menjadikan orang tua mereka sebagai pegangan dan tumpuan.
Anak-anak, yang meskipun senang bisa melihat dengan dekat Pangeran William dan istrinya serta Ratu Inggris dan kereta serta pasukan berkudanya, namun tidak kalah gembira ketika melihat David Beckham yang berada di dalam bus bersama tamu undangan lain di belakang rombongan berkuda menuju Istana Buckingham.


Untuk memperoleh tempat paling depan di belakang pagar pembatas jalan bukan perjuangan mudah, setidaknya semalam mereka menginap dengan memasang tenda. Beberapa lokasi paling strategis, seperti di depan gereja Westminster Abbey tenda-tenda penonton itu sudah terpasang beberapa hari sebelumnya. Dan penonton yang di belakang juga sudah datang dari pagi-pagi sekali, beberapa jam sebelum acara yang dimulai tepat pk 11.00 waktu Inggris.
Untuk apa susah payah datang ke lokasi tapi tidak bisa melihat acaranya, sementara di televisi acara disiarkan secara langsung? Inilah yang khas dari Inggris. Bagi warga negeri Ratu Elizabeth II ini, berada langsung di lokasi adalah sebuah kebanggan tersendiri. I was there, pada momen bersejarah adalah cerita yang akan terus dikenang hingga bertahun-tahun sesudahnya.
Jutaan orang yang memadati London Jumat lalu datang dengan kesadaran penuh bahwa kemungkinan besar tidak bisa melihat acaranya. Tapi bersemangat datang untuk menikmati perayaan kerajaan secara langsung dan menjadi bagian dari sejarah. Mengenakan berbagai atribut bendera Inggris, gaun dan jas pengantin atau kostum layaknya keluarga kerajaan, suasana pesta masal begitu terasa.
Juga di seluruh pelosok negeri yang ramai mengadakan pesta-pesta di jalan bersama para tetangga. Pun juga di banyak lapangan di berbagai kota dengan memasang layar raksasa.



Berbekal lengkap seperti halnya pergi piknik, mereka dengan sabar menunggu berjam-jam bahkan sehari atau beberapa hari sebelumnya dengan gembira. Duduk dikursi lipat atau menggelar kain, menikmati makanan dan minum sambil sesekali bersorak dan bertepuk tangan setiap ada petugas atau kendaraannya melintas di jalan yang akan dilewati pengantin kerajaan. Termasuk juga bertepuk tangan pada petugas dan mobil kebersihan.
Para penonton di pinggir jalan itu sudah tahu susunan acara dan waktunya dari jadwal acara yang sudah dibagikan secara luas sehari sebelumnya, pada jam dan menit keberapa pasangan pengantin baru, Ratu Inggris dan rombongan akan melintas di depan mereka. Jadi sebelum momen yang ditunggu-tunggu itu tiba – yang selesai kurang dari 5 menit – mereka menikmati keberadaan di tengah-tengah keramaian yang mungkin hanya terjadi beberapa puluh tahun sekali.
Disiplin dan tertib
Selain dispilin waktu yang ditunjukan dengan tepatnya jadwal acara tepat hingga detail menit adalah tertibnya ratusan ribu hingga satu juta penonton Royal Wedding. Berbaris rapi di sepanjang jalan yang hanya dibatasi oleh pagar sementara, tanpa saling dorong atau berebut tempat satu dengan yang lain. Tidak ada juga upaya untuk melompat atau menerobos pagar pembatas meskipun itu bukan hal yang sulit dilakukan.

Setelah rombongan pengantin, keluarga kerjaaan, prajurit berkuda serta tamu undangan yang diangkut menggunakan bus memasuki komplek Istana, segera mobil-mobil penyapu jalan membersihkan sampah dan kotoran kuda tentara kerajaan yang tercecer. Dalam sekejap jalanan kembali bersih dan siap untuk dilewati oleh penonton yang sebelumnya berada di belakang pagar pembatas jalan.
Sementara pembersihan dilakukan, dengan tertib para penonton tetap berada di tempatnya menanti pagar pembatas dibuka secara bergiliran untuk kemudian bisa masuk ke jalan dan beramai-ramai melewati The Mall – jalan utama di depan Istana Buckingham – menuju halaman depan Istana.

Di antara begitu banyak orang, tidak terlihat sepucuk senjata pun dari petugas keamanan yang terdiri dari polisi (tanpa senjata) berseragam hitam dan petugas security profesional dengan spesialisasi menjaga dan mengamankan kerumuman orang dalam jumlah banyak yang mengenakan rompi oranye. Sementara itu anggota pramuka dan beberapa organisasi sosial lain berkeliling menjual buku program pernikahan resmi.
Transportasi
Hal lain yang juga vital pada suksesnya acara pernikahan Pangeran William adalah transportasi untuk mengangkut jutaan orang dalam waktu yang relatif singkat. Seperti diketahui sebagian besar jalan-jalan di pusat kota London ditutup untuk acara besar tersebut. Maka kereta bawah tanah atau yang disebut di Inggris dengan tube yang menjadi sarana angkutan utama.
Pada hari itu, selain semua jalur tube di London dioperasikan penuh, selisih satu kereta dengan kereta berikutnya pun dibuat sangat pendek, hanya 3 penit. Dengan begitu tidak ada penumpukan penumpang di stasiun dan di dalam kereta tidak penuh sesak. Kembali, di sini ketertiban juga terlihat, baik para pengguna kereta yang berbaris rapi memasuki stasiun juga para petugas stasiun dan polisi transportasi yang bekerja dengan semangat untuk melayani.
Bisa dikatakan mobil yang ada di tengah kota London saat Royal Wedding hanyalah beberapa roll royce kerajaan yang mengantarkan calon pengantin dan anggota keluarga kerajaan menuju Westminsnter Abbey. Bahkan para tamu undangan penting dan nama-nama terkenal seperti David dan Victoria Beckham diangkut menggunakan bus.
Dan begitu usai, dinas kebersihan London hanya perlu waktu 65 menit untuk jalanan di pusat kota London kembali bersih!
Recent Comments