Bermula dari ide Liston
bahwa masyarakat Indonesia di South East (SE) London perlu berbuat sesuatu untuk
Aceh, tidak hanya secara individu-- yang telah dilakukan sejak musibah
Gempa&Tsunami itu terjadi saat Boxing Day lalu-- tetapi as a community.
Ide itu dilanjutkan dengan
saling telpon dan sekali rapat sekaligus juga gladi resik, akhirnya disepakati
membuat acara Indonesian Music for
Tsunami. Diselenggarakan kemarin, Sabtu 15 Januari di Greenwich Community and
Art Centre pk 17-19.00 GMT.
Indonesian musik yang
dimaksud adalah dangdut, yes dangdut! dan gamelan Jawa. Kedua musik itu dipilih
dengan pertimbangan yang sangat sederhana . Karena dangdut adalah musik yang
biasa kami nyanyikan setiap acara kumpul-kumpul.
Tidak perlu latihan serius
dan personelnya pun dari kami-kami yang just- call -my -name –and- I’ll be
-there. Meskipun bukan kelompok dangdut resmi, tetapi karena beberapa personelnya
adalah pemusik profesional--meskipun bukan berlatar belakang dangdut-- hasilnya
cukup dasyat.
Aris dan Wahyu misalnya,
adalah dua gitaris top. Aris adalah guru musik di London-- salah satunya gitar-- yang tengah
menyelesaikan Phd-nya juga di bidang musik. Sedangkan Wahyu, sekalipun
profesinya adalah chef di sebuah hotel di London, kemampuan bermain gitarnya, kami sebut,
"sekelas Eric Clapton".
Pendukung lain, meskipun
bukan profesional tapi kecintaanya dengan dangdut luar biasa. Joko, seorang
ahli komputer asal Yogyakarta, punya kemampuan terpendam menabuh gendang (apa
kendang?). Karena itu ia punya gedang dangdut yang ia bawa ketika mudik ke Indonesia dua tahun lalu.
Penyanyinya juga oke, alias
suaranya dangdut habis. Perempuan ini kami temukan secara tidak sengaja
beberapa waktu lalu. Teman dari teman salah satu teman yang suka ngumpul bareng
kami warga SE
London di rumah
Arifin.
Sementara keputusan untuk
menampilkan gamelan Jawa, karena kebetulan juga Aris itu punya murid-murid bule
dan kelompok gamelan yang bermarkas di South Bank. Namanya juga murid asal disuruh
pentas gurunya pasti tidak menolak.
Tambah lagi mereka ini
menganggap Indonesia sebagai negeri kedua mereka. Jadi asal sebut
kata Indonesia, semangatnya langsung menyala.
Kemampuan para bule ini
dalam bermain gamelan, membuat saya dan suami yang asli Jawa malu hati. Tidak
sembarangan--meminjam istilah musik barat-- mereka itu tidak hanya bisa bermain
pop atau jazz tapi bisa sampai klasik.
Ingin gending atau tembang apa?
Mereka bisa.
Jangan heran karena mereka
memang belajar gamelan dengan sangat serius. Sebagian besar pernah belajar
beberapa tahun di Solo atau Yogyakarta. Karena itu pula kemampuan bahasa Jawa mereka juga
–kembali-- membuat malu kami. Krama inggil, mate!
Para bule penabuh
gamelan ini punya hubungan khusus dengan saya, karena status saya sebagai ‘chef
resmi’ mereka. Hampir setiap mengadakan acara, resmi atau tidak resmi mereka
akan meminta saya untuk menyediakan catering.
Suatu hari mereka meminta
saya untuk memasak dalam salah satu acara mereka di South Bank. Saya masak
gudeg dan menurut laporan Aris, the gamelan crew screamed! Kaget, tidak menyangka mendapatkan gudeg di London, makanan yang mengingatkan mereka pada
tahun-tahun mereka di Jawa.
Kembali ke acara kemarin. Saya
seperti biasa kebagian tugas jaga warung, dalam arti yang sebenarnya: Jualan
makanan.
Dengan pertimbangan tidak terlalu repot dan juga prinsip modal
sedikit-untung banyak, saya dan Mbak Naniek memasak nasi goreng, mie goreng
dan kerupuk. Suami Mbak Naniek, pemilik
restoran Satay Bar, menyumbang sate mentah, kami tinggal memasaknya.
Semua makanan itu dijual dengan harga 1 poundsterling per box. Murah meriah dan
enak.
Liza yang baru saja lulus
fine Art di salah satu univeritas di London, istri Arifin yang menjadi PO acara menggantikan Liston yang dikirim kantornya ke
Aceh, bertugas membuat undangan.
Semua uang yang dihasilkan
malam itu disalurkan ke Aceh lewat Unicef, karena kebetulan Lisa Liston punya
hubungan dekat dengan organisasi PBB yang malam itu menyediakan tanda mata,
berupa pin dan stiker serta box donasi.
Dengan waktu persiapan
hanya seminggu, Indonesian music for Tsunami berjalan sukses. Well done
everybody.
Recent Comments