Minggu
ini, saya merasa lega karena Kirana mulai kemarin libur,Christmas holiday, sampai nanti 4 Januari 2006. Meskipun saya harus
mencari aktivitas mengisi kekosongan selama liburan.
Desember
selalu ‘merepotkan’ saya. Dulu, ketika Kirana kecil selama Desember saya
direpotkan dengan pertanyaan “Why don’t
we celebrate Christmas?”
Tidak
mudah ternyata menjelaskan kepada anak di bawah 4 tahun, mengapa ia berbeda
dengan teman-temannya.
Kini,
saya tidak punya masalah lagi dengan Kirana menganai hal itu. Saya pikir
‘kerepotan’ saya dengan Desember akhirnya berakhir.
Salah
ternyata. Ketika saya pikir masalah dengan Christmas tree, santa, Christmas
decoration dll terselesaikan, muncul lagi ‘kerepotan’ lain yang semakin kompleks karena terlibatnya
pihak lain: sekolah Kirana.
Akhir
Oktober lalu, saya (dan semua orang tua murid) menerima surat dari sekolah
Kirana tentang rangkaian kegiatan selama menjelang Christmas.
Terdiri
dari Christmas play (drama natal), Christmas Party, Christmas dinner, dan Reading
and Carol (doa dan menyanyi bersama)
Suami
saya menulis surat, dengan bahasa yang sangat sopan,menjelaskan sekaligus
meminta ijin kepada sekolah kalau kirana tidak bisa berpartisipasi dengan semua
kegiatan tersebut.
Pertanyaan
pertama datang dari guru kelas Kirana (2 orang guru: Mrs Clark –Mrs Harris dan
2 asisten: Mrs Calender-Mrs Gros): “Why?”
Setelah
saya jelaskan (lagi), komentar mereka tetap sama: “But there is nothing religious about celebrating Christmas”.
Kami
pun disuruh menghadap kepala sekolah mengenai hal itu. Pertanyaan yang sama dan
komentar yang sama kami dapatkan dari Mr. A Child, Kirana’s Headteacher.
Untung
bagi saya, karena salah satu teman sekelas Kirana, Ethan, tidak juga merayakan
natal dan juga menolak untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Ethan
dan keluarganya adalah pengikut Jehovah’s witness, yang menurut Sarah, Ethan’s
Mum, mereka percaya Jesus namun tidak percaya Jesus dilahirkan pada 25
Desember, sehingga mereka tidak merayakan natal.
Karena tidak percaya natal, maka jehovah's witnesses tidak ikut berpartisipasi in any activities yang berhubungan dengan natal. Amin with that!
Bersama
Sarah, saya akhirnya bisa menempuh jalan tengah dengan guru dan kepala sekolah
Kirana.
The main concern
bagi mereka bukan pada tidak membolehkan Kirana dan Ethan untuk tidak ikut
celebrating Christmas, tetapi pada bagaimana mengisi waktu Kirana dan Ethan
ketika teman-teman mereka berlatih Christmas
play.
Akhirnya,
setelah menghadap kepala sekolah dua kali, Kirana dan Ethan akan ke sekolah
pada jam usai rehearsal (ketika latihan pagi) dan pulang terlebih dulu (jika
latihan dilakukan di jam-jam akhir sekolah).
Dan
jika di tengah-tengah, maka saya dan Sarah akan datang ke sekolah dan menjaga
Kirana dan Ethan melakukan aktivitas yang telah disiapkan oleh guru-guru
mereka.
Sementara
untuk Christmas party, christmas dinner
dan Reading and Carol, Kirana
diijinkan absen.
Meskipun
saya harus fight dulu dengan Mr.
Child: “ There is nothing religious with
Christmas party or Christmas dinner,” katanya selalu.
“Kita
hanya makan-makan, dan meskipun nanti ada Santa, your daughter bisa keluar
sebentar dari ruangan,” tambahnya.
“But, we aren't supposed to taking part in
other religion festivals. Meskipun itu hanya makan-makan but, you and
other children will refers as Christmas Party/Dinner”, saya berusaha keras
untuk mencobanya mengerti.
“So, it’s because there is ‘Christmas’ word on
it, meskipun sama sekali tidak religius, “katanya lagi.
“Yes,” jawab
saya yang kehabisan kata untuk menjelaskan tentang itu.
“So, your daughter will able to comes to School disco then. It’s only school disco, without Christmas label on it,”
katanya.
“I suppose so,”
jawab saya yang semula berharap Kirana bisa absen pula dari ritual tahunan
sekolah ini. Saya harus berkompromi, pikir saya, toh yang berlabel
‘Christmas’ Kirana bisa absen.
Satu
lagi pertanyaan yang diungkapkan Mr. Child. Ia berkata, dalam dua puluh tahun
ia menjadi kepala sekolah, ia punya beberapa murid muslim, but tidak ada yang
pernah menolak untuk ikut celebrating Christmas.
Begitu
juga dengan Sarah, “ Saya baru tahu kalau muslim juga tidak boleh celebrating
christmas”.
They know now
dan menurut pengalaman Sarah, it will
save me from the same trouble next year.
I hope so.(Bersambung)
Recent Comments