Atas permintaan Devi (hi Devi! ) maka saya akan coba menulis tentang ipad, sebagai bentuk apresiasi saya karena - surprise,surprise - ia membaca blog ini sejak lama.
Ok, let's start dengan a certain someone di rumah kami yang pencinta teknologi dan khususnya produk Apple. Bisa dikatakan, only his wife comes between him and Steve Jobs. Alias, kalau tidak di-veto istrinya, semua produk Steve Jobs akan dibelinya.
Sebelum sebuah produk diluncurkan, this person sudah tahu semuanya. Dan on they day product itu diluncurkan -yang dalam tradisi Apple adalah dengan Steve Jobs ceramah panjang lebar dalam sebuah conference- maka this person akan mengikuti dan menyimak live streaming-nya dengan tekun.
Karena Steve Jobs di Amerika Serikat dan itu artinya perbedaan waktu dengan UK, maka live streaming itu pada saat jam-jam tidur di sini. Lebih dari sekali saya terbangun tengah malam atau dinihari karena mendengar ada orang bicara panjang lebar dan diselingi tepuk tangan. Of course, suara-suara yang saya pikir mimpi itu berasal dari this person yang kebetulan juga roommate saya, tengah menyimak his favorite person in the world, aka Steve Job. Melalui komputer produksi Steve Jobs yang berjarak hanya beberapa centimeter dari telinga saya.
Dan setelah peluncuran di AS itu, topik bahasan produk baru Apple itu makin gencar terdengar di telinga saya, belum lagi aneka artikel dan review-nya. Selang beberapa minggu kemudian, yaitu saat produk tersebut akhirnya available di UK, no surprise here, tentu saja there is only one place this person berada: Apple store.
Kejadian itu berulang setiap kali Apple meluncurkan produk terbarunya. Seperti saya tulis di atas, semua produk itu sudah ada di rumah saya, kalau bukan karena saya yang mencegahnya. Well, somebody has to.
Begitu pula ketika terdengar kabar kalau Apple akan mengeluarkan produk baru berupa komputer berbentuk tablet. Prosesi di atas terjadi lagi di rumah kami. Again.
Fast forward pada hari peluncurannya di UK. " Lagi antri di Apple store nih pasti?" begitu SMS dari teman saya. It's so obvious, apparently. Meskipun untuk peluncuran ipad tidak terlihat antrian seperti beberapa produk Apple sebelumnya.
Ternyata, tidak ada antri bukan karena tidak diminati. Most of customer sudah pre-order, memesan sebelum produknya diluncurkan. Pada siang itu di Apple store sudah sold out! Luar biasa memang marketing department-nya Apple.
Hari itu kami hanya bermain-main dengan ipad yang banyak dipajang di Apple store (not for sale, untuk demo saja), beberapa hari kemudian barulah ipad sampai di rumah.
Lantas review-nya bagaimana? As everybody know, saya tidak begitu paham dengan aspek teknis dari sebuah produk elektronik. Sebatas memakai dan marah-marah kalau rusak. Don't try this at home!
Komentar saya dan Kirana, anak sulung saya, sama mengenai ipad ini, " It's just like iphone, only bigger". Jadi, bagi yang sudah pakai iphone, ipad ini kurang lebih sama, hanya lebih besar. Oh, dan tidak bisa dipakai menelepon.
Namun, dengan lebih besar maka fungsi-fungsi lain diluar menelepon itu menjadi lebih mantap tampilanya. Ini pula yang begitu mempesona anak saya yang kedua, Alisha. Dia ini paling suka memakai salah satu app yaitu brushes, applikasi untuk menggambar. Saat ia menggambar di ipad, komentarnya adalah, "WOW, the ipad is much much better than iphone!". Tentu disambut dengan high five (toss) oleh ayahnya.


Ukuran ipad ini, sedikit lebih kecil dari kertas HVS dan ringan untuk ditenteng. Terakhir kali saya ke Apple store untuk memperbaiki komputer yang rusak, semua pegawai Apple store memegang ipad. Dan tampaknya semuanya mereka lalukan dengan ipad. Jadi tidak ada lagi kertas catatan atau notes, serba digital dengan ipad.
Di London dalam beberapa acara kumpul-kumpul yang saya hadiri terlihat banyak yang membawa ipad. Karena berbeda dengan laptop, ipad ini memang jauh lebih handy: tipis, kecil, dan ringan. Seperti menenteng buku, bahkan lebih tipis dari buku.
Dan seperti komputer keluaran Apple yang lain, tampilan atau resolusi gambar di layarnya lebih cemerlang dibanding komputer biasa.
Di luar itu, ada faktor lain yang identik dengan produk Apple yaitu cool factor atau wow factor atau keren. Yang dipercayai berpengaruh pada status pemakainya. Siapa yang memakai produk Apple jadi lebih keren, begitu katanya (psst, Presiden SBY pun mengangguk setuju). Kembali, ini tidak lepas karena marketing department Apple yang genius.
Namun seperti produk Apple yang lain umur baterai-nya tidak lama. Meskipun sudah jauh lebih baik, Apple products perlu lebih sering di-charge dibanding non Apple. Atau kalau mengutip Evening Standard: As we all know, Apple is the iFuture but only if you iCharge the iThing.
The other thing yang saya baru sadari saat liburan ke Indonesia adalah, Apple works best dengan fast internet connection. Saya yang di London selalu mendapat koneksi internet yang super cepat menjadi sangat frustasi ketika memakai iphone di Indonesia, apalagi ipad.
I don't know, mungkin ini subjektif karena saya paling tidak sabar dengan koneksi internet yang lelet ditambah lagi sehari-hari saya terbiasa dengan internet yang sangat cepat. Karenanya teman-teman dekat di Indonesia mem-banned saya berinternet di Indonesia. Takut saya darah tinggi. Pada dasar ini, seandainya saya tinggal di Indonesia, saya prefer produk lain selain Apple.
Really? Iya. Bahkan suami pun menyimpan iphone dan ipad-nya dan memilih beli Blackberry bekas di Ebay sebelum ke Indonesia. Dan menjelang kembali ke London akan dijualnya lagi. Mudah, karena di Indonesia minat atas Blackberry begitu tinggi.
Hanya itu "review" tentang ipad dari saya yang sangat tidak objektif. It's brilliant, it's cool, tapi dengan syarat koneksi internetnya cepat.
Namun, selain review-nya, yang paling penting dalam membeli produk baru, apa pun itu - dan ini juga senjata pamungkas saya dalam mem-veto suami- adalah pertanyaan: " Do you need it? Really, really need it? "
If the answer is yes, then go for it!
* Gambar-gambar di atas adalah hasil karya Alisha dengan menggunakan Brushes app di iphone dan ipad.
Recent Comments